Refleksi Tahun 2008 dalam Perspektif Globalisasi

Oleh: Pravisdya Winta P*

pravisdya-winta-pBila ingin berbicara mengenai globalisasi, maka lebih baik kita benar-benar memahami apa sebenarnya globalisasi itu. Pada awal mulanya, memang, konsep globalisasi yang ada dan berkembang sampai sekarang ini merupakan salah satu cara agar manusia lebih nyaman dan lebih mudah dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka. Lalu kemudian mulailah berbagai cara yang dinamakan ‘globalisasi’ ini menuju ke perspektif yang lebih cenderung menyakitkan, yaitu perebutan kekuasaan, hegemoni barat, dan pengaruh dunia global antara negara besar di dunia (yang tidak akan cukup bila dibicarakan disini). Dan menciptakan titik akhir evolusi manusia dan universalisasi demokrasi liberal barat sebagai bentuk akhir pemerintahan manusia. Dan dalam jangka panjang, ideologilah yang akan menjadi penguasa dunia materi.

Karena materi didapat hanya karena hegemoni yang dibentuk dari globalisasi. Berkat globalisasi, pemain bola basket Chicago Bull pendapatannya mencapai 40 juta dollar pertahun. Yang merupakan kompensasi dari penjualan t-shirt mereka yang terhegemonikan dengan baik, dari Moskow sampai Jakarta. Demikian juga Mc Donald. Berapa pajak mereka yang masuk ke kas AS? Sebagian, dibayar oleh anakanak dari seluruh dunia itu, termasuk Indonesia.

Dengan kenyataan seperti itu, globalisasi merupakan peluang untuk maju, sekaligus malapetaka, apabila kita tidak dapat mengelola globalisasi dengan baik.

Globalisasi telah menciptakan berbagai masalah dan kepentingan yang sifatnya global, intrastate atau bahkan suprastate. Banyak masalah yang tidak lagi diatasi sendiri oleh sebuah secara unilateral sehingga kerjasama internasional yang sifatnya multilateralisme menjadi salah satu pilihan (dependensia). Banyak kepentingan-kepentingan yang tidak lagi dipenuhi kecuali melalui peran kekuatan global atau melibatkan suprastate.

Selain negara yang saling terkait dalam suatu kepentingan yang didasarkan kepentingan individual yang terwakilkan oleh kebijakan suprastate (baik yang menguntungkan atau tidak), dibutuhkan pula adaptasi secara cepat akan penyesuaian terhadap baju baru tersebut. Baju yang dijahit, dijual mahal dan dihegemonikan oleh para designer ternama (superstate) kepada konsumen-konsumen dunia, secara tidak pandang bulu. Sehingga muncullah kesenjangan akan ‘siapa yang mampu membeli baju dan siapa yang tidak’.

Banyak masalah, kepentingan atau isu yang terjadi pada tahun 2008. Yang apabila dilihat dari sudut yang berbeda, maka akan terlihat lebih jelas bahwa sebenarnya sedikit banyak, merupakan sumbangan dari dampak globalisasi. Tetapi disini, Saya hanya akan memberikan dua isu saja, yang menurut saya mewakili kepentingan yang dasar.

Salah satu dari dampak globalisasi adalah meningkatnya masalah bersama, karena adanya pemahaman bahwa dunia adalah satu. Hal tersebut terimplikasikan dengan adanya isu krisis keuangan global yang melanda keuangan dan moneter dunia. Hal ini dipicu oleh banyaknya uang-uang maya yang tersebar di monetary negara dan bailout besar-besaran pemerintah AS terhadap keuangannya, akibat pemenuhan kebutuhan yang tidak dibutuhkan (perang-perang bak Rambo). Sehingga APBN itu membengkak dan menjadikannya masalah bersama. Disini, dampak isu ini bila dilihat dari perspektif globalisasi semakin terlihat, karena masalah yang mulanya hanya milik AS semata, menjadi masalah global atau menjadi masalah bersama, itu karena adanya globalisasi (dalam hal ekonomi).

Isu lain yang gencar pada tahun 2008, adalah global warming. Mengapa masalah global warming juga ikut-ikutan masuk dalam masalah globalisasi? Penyebab dari global warming salah satunya adalah banyaknya polusi yang ada di bumi, dan seperti yang kita tahu, sebagian besar berasal dari industrialisasi dan produksi limbahnya. Lalu, setelah mengetahui penyebab-penyebab tersebut dan apa yang terjadi pada masa depan, apa yang terjadi? Tidak ada, tidak ada yang dilakukan untuk mengurangi polusi tersebut (setelah beberapa perjanjian dan protocol). Karena dengan industrialisasi, ‘get more money’ yang merupakan prinsip awal globalisasi akan tercapai. Jadi, untuk apa mengurangi kapasitas industrialisasi hanya karena kepedulian akan lingkungan. Benarkah kepedulian akan lingkungan merupakan isu yang sebegitu sempit? Tunggu dulu, kalau begitu untuk apa didirikan beribu-ribu NGO dan LSM lingkungan yang ada di dunia terbentuk? (di Indonesia saja ada 600 LSM pada tahun 1994, bagaimana bila cakupannya dunia?)

Apabila dilihat dari kaca mata globalisasi, sebenarnya semua hal atau isu merupakan sesuatu yang diprediksi secara umum, tetapi mengapa hal-hal tersebut masih juga diambil, dengan mengetahui resikonya? Atau, mengapa harus cara globalisasi yang dipakai untuk menunjukkan bahwa kepentingan manusia merupakan hal yang patut diperhatikan, apakah tidak ada cara lain? Atau, apakah globalisasi merupakan suatu proses (…sasi) dari sesuatu yang lebih besar? Mungkinkah kata-kata Huntington itu benar, bahwa akan terjadi ‘The Clash of Civilization’ dan mungkin globalisasi sebagai suporternya…

*Mahasiswi HI Globalisasi 06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s