Bedah Buku "Demokrasi Tidak Untuk Rakyat"

Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami apa yang disebut sebagai kematian makna demokrasi sesungguhnya. Hal ini lantaran demokrasi yang dijalankan saat ini tidak lagi semata-mata untuk rakyat, namun lebih pada memangkas kedaulatan rakyat.

Demikian disampaikan penulis buku “Demokrasi Tidak untuk Rakyat”, Eko Prasetyo, dalam diskusi bedah buku yang diselenggarakan oleh Divisi Pengembangan Wacana Korps Mahasiswa Hubungan Internasional-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAHI-UMY), di Mini Theater Kampus Terpadu UMY, Sabtu (27/2/2010).

Menurutnya, buku tersebut mengungkapkan kekecewaan terhadap demokrasi yang lemah fondasinya. “Fondasi demokrasi saat ini menjadi lemah karena adanya sistem perwakilan yang cacat akibat demokrasi hanya mewakili kepentingan para pemilik modal, bukan rakyat yang sesungguhnya,” jelas Eko.

Selain itu, adanya sistem peradilan di Indonesia yang semakin banyak dilobi oleh kelompok kepentingan yang tak bertanggung jawab. “Ancaman munculnya demokrasi yang tidak berpihak kepada rakyat juga terlihat dengan adanya kekuatan NGO, parpol yang bisa dipatahkan oleh kelompok kepentingan yang melobi dalam arena birokrasi,” tambah Eko.

Eko juga mengungkapkan, adanya oligarki kekuasaan dalam keluarga juga menjadi penghambat demokrasi tidak berpihak kepada rakyat.

Sebagai panelis dalam bedah buku tersebut, Muhammad Fikri Pido menuturkan jika buku tersebut memaparkan demokrasi bukan menempatkan rakyat sebagai aktor utama dalam negara. “Demokrasi bukan untuk rakyat, namun lebih kepada pemegang usaha atau pemodal, militer, elite politik, dan oposisi loyo,” tuturnya.

Fikri menjelaskan oposisi loyo merupakan kelompok atau gerakan yang berusaha menegakkan demokrasi namun usaha tersebut dihambat oleh sekelompok kepentingan yang berusaha melemahkan demokrasi dengan memberi donor kepada gerakan tersebut. “Dalam bukunya, Eko juga mampu memberikan pemahaman dan penjelasan dengan fakta dan argumentasi yang kuat. Selain itu, buku tersebut juga memuat langkah-langkah yang untuk mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat,” urainya.

Sementara itu, menurut Ketua Pelaksana acara ini, Sybatul Minna, menjelaskan demokrasi merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan bangsa Indonesia sampai sekarang ini mengingat melalui demokrasi, bangsa Indonesia berusaha mencari tipe demokrasi yang sesuai dengan bangsa ini.

Namun seiring berjalannya zaman, demokrasi di Indonesia sudah banyak mengalami perubahan yang signifikan “Ketika kembali kepada kata demokrasi yang bermakna dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Hal itu kemudian menimbulkan tanda tanya apakah demokrasi memang benar-benar untuk rakyat? Pertanyaan seperti itulah yang kiranya perlu dijawab melalui diskusi buku ini,” terang Minna.

sumber : http://www.umy.ac.id/demokrasi-pangkas-kedaulatan-rakyat.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s