HI tak lagi Sekedar Belajar Politik

Untuk menjaga hubungan baik antarnegara di dunia ini, diperlukan sejumlah strategi komunikasi efektif. Terkait dengan itu, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan untuk membina hubungan internasional yang tepat, demi kepentingan negaranya.

Terlebih di era globalisasi saat ini. Kebutuhan akan hadirnya SDM yang piawai dalam mengadakan, dan membina hubungan internasional menjadi suatu tuntutan yang tidak terbantahkan. ”Era globalisasi melahirkan perkembangan kemajuan teknologi dan informasi secara pesat. Tak dipungkiri, hal itu memberikan dampak yang luar biasa terhadap pergaulan antarnegara,” kata M Adian Firnas, SIP, MSi, Ketua Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, IISIP.

Ia menambahkan, setiap negara dituntut untuk mampu melakukan komunikasi antarnegara secara tepat, serta membina hubungan internasional yang kondusif dan menguntungkan bagi negaranya. ”Negara yang tidak memiliki kemampuan berinteraksi dengan negara lainnya, apalagi negara yang masih mengisolasi diri, tentu tidak akan mendapat apa-apa. Sebaliknya, dengan melakukan hubungan internasional, dimungkinkan untuk terjalin kerja sama dengan negara lain,” tegasnya.

Perlu diingat, lanjut Adian, negara, layaknya manusia, tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, melainkan memerlukan manusia lainnya. ”Untuk memenuhi kebutuhan bangsanya, setiap negara memerlukan interaksi dengan negara lain. Agar tujuannya tercapai, diperlukan pengetahuan dan strategi yang harus dipelajari secara formal. Untuk itu diperlukan Ilmu Hubungan Internasional (HI),” terang Adian.

Hal senada diungkapkan Drs Umar Suryadi Bakry, MA, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM), Universitas Jayabaya Jakarta. Namun, ia menggarisbawahi bahwa pentingnya mempelajari HI bukan karena adanya era globalisasi saja. ”Jauh sebelum adanya era globalisasi, HI sudah diakui sangat penting untuk dipelajari, dan dikuasai. Dengan menguasai HI dengan baik, dimungkinkan untuk mengambil manfaat dari negara lain secara optimal, demi kepentingan pembangunan negara (nation building),” terang Umar.

Ekonomi politik

Tak dipungkiri, kata Adian, sejak dulu HI identik dengan politik. Tak heran, muncul persepsi bahwa lulusan HI idealnya bekerja sebagai diplomat, atau bidang karier lain yang berhubungan dengan politik.

Menurut Dra Enny Suryanjari, MSi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, IISIP, citra tersebut memang tidak dapat disalahkan. Sebab, HI sangat kental bersinggungan dengan politik. ”HI memepelajari hubungan antarnegara, dan berkaitan dengan urusan luar negeri suatu negara. Namun, dalam membangun hubungan antarnegara itu, HI berupaya membangun strategi untuk menghasilkan keuntungan bagi negaranya. Karena itu, HI juga bersinggungan dengan ekonomi,” kata Enny.

Hal senada diungkapkan Umar. ”Era globalisasi berarti juga era ekonomi dan era informasi. Dalam era perdagangan bebas yang sangat kompetitif, dibutuhkan alumni HI yang tidak hanya mengenal negaranya dan memiliki wawasan mengenai karakteristik negara lain. Tetapi juga, melakukan diplomasi ekonomi dan analisis ekonomi,” kata penulis buku Pengantar Hubungan Internasional itu.

Dengan demikian, lanjut Umar, di mana pun alumni HI bekerja — apakah di Departemen Luar Negeri, atau departemen lainnya di Indonesia, maupun perusahaan swasta — , ia akan mampu membawa keuntungan yang sebesar-besarnya bagi negaranya, atau perusahaan tempat ia bekerja, melalui hubungan dengan negara lain atau perusahaan asing. Oleh karena itu, kata Umar, idealnya mahasiswa HI, tidak lagi hanya diberikan mata kuliah yang berkaitan dengan politik saja.

Mahasiswa HI juga harus diberikan perkuliahan yang berkaitan dengan ilmu ekonomi dalam porsi yang lebih besar dari biasanya. ”HI saat ini seharusnya memang menekankan pada aspek-aspek ekonomi politik,” tandas Enny. Selain itu, kata Umar, pada dasarnya, mempelajari HI berarti mendalami fenomena sosial berkaitan dengan semua bentuk hubungan dalam kehidupan sosial umat manusia yang melintasi batas-batas negara. Sebagai sebuah disiplin ilmu, HI merupakan bidang studi yang multidisipliner. Ia mempelajari segi-segi internasional dari kehidupan sosial umat manusia. ”Yang paling relevan dalam era globalisasi saat ini, adalah mempelajari ekonomi, dari sudut pandang hubungan antarnegara,” papar Umar.

Mata kuliah

Menyadari pentingnya pengetahuan yang baik tentang ekonomi dalam menjalin hubungan antarnegara, mahasiswa IISIP akan menerima sejumlah mata kuliah yang berkaitan dengan ekonomi. Antara lain, Ekonomi Politik Internasional. ”Melalui mata kualiah itu, mahasiswa akan mempelajari gejala atau fenomena ekonomi politik di kancah dunia internasional. Selain itu, ada pula mata kuliah Bisnis Internasional,” ungkap Adian.

Sementara di HI Universitas Jayabaya, kata Umar, perkuliahan yang bersinggungan dengan ekonomi antara lain Pengantar Ilmu Ekonomi, Ekonomi Politik Internasional, dan Diplomasi. ”Diplomasi tidak hanya berkenaan dengan politik, tetapi juga ekonomi. Bagaimana memperjuangkan kepentingan negaranya dari negara lain agar diperoleh keuntungan ekonomi. Misalnya, bagaimana mengundang investor dari luar negeri,” terang Umar.

Baik Umar maupun Adian sepaham bahwa sejatinya, mahasiswa HI menguasai bahasa asing. Tidak hanya bahasa Inggris, melainkan juga bahasa asing lainnya. Misalnya, bahasa China, Arab, dan Jepang. Alasannya, negara-negara tersebut memiliki eksistensi yang diakui dunia dalam bidang ekonomi, bisnis, maupun politik internasional.

(Republika Online, Senin 13 Nopember 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s