Kapan Poltiik Islam Diperjuangkan ?

Islam sejak awal diturunkan hadir sebagai antitesa dari ‘kejahiliahan’. Dan selanjutnya berdinamika dan mulai berdialektika dengan segenap ilmu pengetahuan yang datang sebelum dan setelah Islam. Islam selalu mangasimilasi segala bentuk ilmu pengetahuan dengan penyesuaian terhadap nilai-nilai Islam.

Islam yang ditawarkan pada waktu itu adalah bentuk da’wah yang dimulai dari eksklusifitas keluarga dan kerabat dekat rasulullah, dimulai dari ajaran untuk kembali kepada tauhid, sebagai bentuk tanggung jawab transendental terhadap kekuatan diluar kekuatan manusia, otoritas ilahiah adalah yang mempunyai peranan dalam menentukan world view pada waktu itu dengan keadaan masyarakat Arab primordial, keterbatasan sumber air, dan keadaan geografis yang mana telah membentuk watak bangsa semit yang keras dan sangat rentan konflik.

Usaha Rasulullah untuk menjalin hubungan harmonis dengan membawa norma baru dalam kehidupan ‘jahiliah’ pada waktu itu dilakukan dengan ‘proses penyadaran’ (baca:aqidah) tanpa pemaksaan. Islam pada waktu itu tidak dipandang sebagai Islam yang harus berkuasa, tapi Islam yang berusaha untuk mengantarkan ‘jahiliah’ ke ‘pencerahan’ tanpa politik. Ini adalah embrio awal bagaimana Islam bisa dikenal dan dijalankan dengan segenap kesadaran.

Kalaulah kita lihat Islam sekarang ini, seolah-olah menaruh politik sebagai fondasi dasar untuk aktualisasi kepentingan dakwah. Dan yang terjadi adalah justru mereka mereka terkooptasi dalam kepentingan golongan mereka sendiri dan kemudian jauh dari tujuan dakwah semestinya. Nyaris disana-sini terjadi benturan dalam tubuh Islam sendiri, bukan untuk dakwah, tetapi perbedaan orientasi politik yang sebenarnya kurang penting. ‘Politic is the aim justifies the means’ mungkin sudah menjadi slogan untuk kepentingan mereka.

Pemahaman Al-qur-an dan Al-hadist sekiranya tidak cukup untuk mengupas bagaimana Islam bisa mencapai kejayaanya. Siroh nabawiyah sebagai tangan panjang keterangan bagaimana aktualisasi Islam dan politik juga harus kita cerna lebih dalam.

Islam telah menjadi panutan tidak diawali dengan perjuangan politik. Melainkan ditawarkan dan melalui dua fase besar:

Pertama, fase Makkah, yaitu ketika Islam turun pertama kalinya di Makkah untuk merevitalisasi bentuk kejahiliahan pagan yang sejatinya telah merusak sistem tatanan sosial masyarakat suku Arab pada waktu itu. Seperti mengubur anak perempuan hidup-hidup, mabuk, berjudi, perzinahan, dan perbudakan. Melihat persalahan yang sangat komplek ini, rasulullah tidak mengambil jalan instant melalui politik.

Tapi usaha penyadaran masyarakat itu Rasulullah lakukan dengan ‘dakwah Sirron’ yaitu penyadaran masyarakat yang dimulai dengan keluarga dekat rasulullah tanpa melalui paksaan dan dilakukan dengan sembunyi mengingat Islam belum punya kekuatan jika harus mengadapi kekuatan kaum penganut pagan pada waktu itu.

Fase yang kedua, adalah fase Madinah, dimulai sejak hijrahnya rasulullah dari Makkah ke Madinah yang disambut dengan banyaknya pengikut rasulullah dari kaum Muhajirin Makkah dan Ashor Madinah. Ekonomi adalah sebagai fondasi awal perjuangan Islam sebelum Islam diperjuangkan dengan politik. Delapan bulan pertama rasulullah berusaha menguasai potensi ekonomi yang sebelumya dikuasai oleh yahudi Madinah kemudian beralih ke tangan Islam. Oleh sebab itu rasulullah menyuruh umatnya untuk melakukan aktivitas ekonomi, dari perkebunan, dan perniagaan; sehingga sejarah mencatat bahwa padang pasir yang tandur tersebut berubah menjadi kebun kurma dari madinah sampai ke gunung uhud. Pada awalnya ekonomi madinah terpusat pada tiga pasar madinah, Zabalah,Yasar dan Safasir yang dikuasai oleh Yahudi Madinah; Di pasar yahudi tersebut lengkap, semuanya ada, dan hampir semua penduduk madinah membeli barang di pasar itu. Tapi setelah perjuangan rasulullah dan para sahabatnya akhirnya pasar itu pun bisa di kuasai oleh Islam.

Kemandirian ekonomi islam pada waktu itu telah menjadi kekuatan dasar untuk memperjuangan Islam dengan politik. Beberapa usaha politik rasulullah perjuangakan seperti pembentukan piagam madinah dan beberapa negosiasi dengan kaum pagan seperti pada perjanjian hudaibiyah yang kemudian diikuti oleh beberapa peperangan untuk melawan tekanan kaum pagan yang semakin menyudutkan ummat islam pada waktu itu.

Dari sedikit uraian diatas beberapa hal yang dapat kita garis bawahi adalah Islam harus dipahami sebagai ajaran yang diturunkan untuk bisa bermetamorfosis membaca konteks fenomena sekarang ini, yang mana kadang masa sekarang adalah hasil refleksi dari masa lalu yang kita bisa mengambil pelajaran yang bisa kita terapkan sekarang.

Melihat keadaan sekarang Islam telah jauh dari Islam itu sendiri (baca:aqidah & tauhid). Islam hanyalah ajaran yang telah terfragmentasi, jumud, dan stagnant. Hal ini yang telah mengantarkan Islam kepada kedangkalan berfikir yang membuat Islam semakin termarginalkan, karena Islam dijalankan tanpa proses kesadaran seutuhnya, hanya sebatas rutinitas-religiusitas. Benar apa yang pernah disampaikan Muhammad ‘Abduh, seorang tokoh pembaharu di Mesir “al-Islamu mahjuubun bil muslimiin” Islam tertutup kesempurnaannya oleh umat Islam sendiri.

Dari sini seharusnya timbul kesadaran positif untuk kembali ke nilai-nilai Islam, Islam harus pandai dalam melihat ‘common enemy’ sekarang ini. Kalau dulu adalah ‘kejahiliahan’ maka sekarang ini adalah ‘hegemony’ barat yang telah jauh dari nilai-nilai spritualitas. Media, teknologi dan infromasi adalah sebagai basis dari ‘hegemony’ ini. Memang sudah tidak ada lagi penjajahan fisik, tapi hegemoni ‘counterfeit-conscsiuosness’ telah melahirkan manusia-manusia baru dengan kesadaran baru. Dari sekotak TV pun bisa menciptakan ‘aqidah’ baru yang dapat mengikis nilai-nilai spritualitas.

Perjuangan islam tidak serta merta melalui jalur politik, tetapi harus melalui tahapan dimana islam dapat di aktualisasikan secara kaffah, dari proses penyadaran tanpa paksaan, kemandirian ekonomi sampai pada akhirnya perjuangan politik.

Sebagai mahasiswa yang tahu politik sudah semestinya tahu posisi Islam sekarang adalah dalam fase apa dari uraian diatas, dan kapan penjugan politik itu bisa dilakukan.


Wahyu Tri Harsono
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UMY Angkatan 2006 (Alumni)

Tulisan ini telah dimuat pada Diplomacy Magazine Edisi 1 , 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s