Keanekaragaman Diplomasi China

Animal Diplomacy : “Bahasa Hewan” atas Nama Negara

Sudah bukan rahasia lagi bila hubungan China dengan Taiwan seringkali bersitegang, tak heran hubungan kedua negara ini yang walaupun masih satu saudara seringkali menjadi perhatian dunia. Namun hal ini seolah-olah tidak dirasakan oleh warga Taiwan yang saat itu menyambut kedatangan panda hasil hibah dari RRC. Sambutan yang luar biasa bagi hewan, layaknya penyambutan tamu Negara, warga Taiwan berkumpul dipinggir jalan yang dilalui truk pengangkut panda sambil mengibar-ngibarkan bendera.

Keceriaan yang ada saat panda tersebut tiba di Taiwan seolah-olah bahwa hubungan kedua Negara tersbut baik-baik saja tanpa pernah ada terjadi masalah. Cina menghibahkan sepasang panda raksasa, yang jantan diberi nama Tuan sedangkan yang betina diberi nama Yuan Yuan. Nama kedua panda tersebut bila digabungkan akan berarti “Reuni” . Ternyata bila dilihat dari kejadian tesebut terlihat bahwa hewan pun mempunyai kekuatan untuk berdiplomasi untuk hubungan kedua Negara yang sering bersitegang. Dua panda raksasa, hadiah hibah dari China untuk pesaing politiknya.

China telah mengklaim Taiwan sejak berakhirnya perang saudara pada 1949. Beijing telah berikrar akan mengembalikan pulau tersebut ke dalam kekuasaannya, dengan kekuatan jika perlu, tapi hubungan telah membaik sejak Presiden Taiwan yang bersahabat dengan China Ma Ying-Jeou memangku jabatan pada Mei. Tuan Tuan memiliki berat 110,2 kilogram dan Yuan Yuan berbobot 111,4 kilogram pada Senin, kata Chin. Nama kedua panda raksasa itu jika digabungkan berarti “reuni”.

Tuan – Tuan dan Yuan – Yuan

Kedua panda itu merupakan satwa endemic China yaitu satwa yang hanya dapat ditemukan di alam bebas di China, tempat mereka mulai pulih dari ambang kepunahan, tapi belum keluar dari ancaman bahaya, kebanyakan akibat kesulitan dalam menghasilkan anak. Kebun binatang Taiwan akan berusaha mengawinkan pasangan panda tersebut dan berharap dapat mengembalikan anak panda ke China, kata seorang pejabat kebun binatang bulan lalu. Beijing telah memberikan panda kepada sembilan negara termasuk Jepang, Amerika Serikat dan bekas Uni Sovyet sejak 1957.

Tercatat Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi keduadi dunia setelah Brasil. Walaupun luas total daratan hanya 1,3 % dari seluruh permukaanbumi, Indonesia memiliki 10% tumbuhan berbunga (27.000 jenis), 12% Mamalia (515 jenis), 16% satwa Amphibia (270 jenis) dan 17% Aves (1539 jenis).(sumber: Marthen. T.L. dkk, “ Fauna Endemik Sulawesi : Permasalahan dan Usaha Konservasi”, 2003).

Tak hanya itu Indonesia juga memiliki kurang lebih 350.000 jenis satwa dan 10.000 mikroba yang hidup secara alami di bumi pertiwi ini, 15 % serangga , 25 % jenis ikan. Dari kekayaan jenis satwa dan tumbuhan tersebut, ternyata baru sebagian kecil saja yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Tercatat lebih kurang 6000 jenis tumbuhan, 1600 jenis hewan dan 100 jenis jasad renik, yang saat ini telah tergali potensi pemanfaatannya. (Sumber: data BKSDA, 1996).

Dari data tersebut seharusnya kita berbangga atas kekayaan satwa endemic yang ada di bumi pertiwi, tak hanya kekayaan hasil bumi saja. Dengan “harta karun” yang ada Indonesia seharusnya juga bisa meniru langkah-langkah China dalam program pelestarian Panda. Bila tak dijaga satwa-satwa endemik kita akan punah.

Dunia satwa Indonesia mempunyai kedudukan yang istimewa di dunia. Dari 515 jenis mamalia besar, 36 % adalah endemik (tidak terdapat di tempat lain di dunia); dari 33 jenis primata, 18 % endemik; dari 78 jenis paruh bengkok, 40 % endemik; dan dari 121 jenis kupu-kupu, 44 % adalah endemik. Oleh karena itu, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki “mega diversity” (kaya keanekaragaman) jenis hayati dan merupakan “mega center” (pusat kekayaan) keanekaragaman hayati dunia (data Dept. Kehutanan, 1994).

Melihat data tersebut, bayangkan saja seberapa besar “harta” satwa kita yang hanya satu-satunya di dunia. Seharusnya dengan kekuatan satwa endemic yang ada Indonesia mempunyai power yang besar untuk melakukan “animal diplomasi” baik untuk dunia pariwisata maupun dunia politik seperti yang dilakukan oleh China lewat panda-nya.


oleh : Fuadi Afif
Mahasiswa HI UMY Konsentrasi Globalisasi Angkatan 2006 (Alumni)

Tulisan ini telah dimuat pada Diplomacy Magazine Edisi I , 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s