Membangun Kembali Peradaban Islam

Islam saat ini telah diakui sebagai salah satu peradaban besar yang masih eksis di muka bumi, disamping tujuh peradaban besar lainnya. Banyak cendekiawan merumuskan, bahwa unsur pokok suatu peradaban adalah agama. Agama, kata mereka, adalah faktor terpenting yang menentukan karakteristik suatu peradaban. Sebab itu, Prof. Bernard Lewis, menyebut peradaban Barat dengan sebutan “Cristian Civilization,” dengan unsur utama agama Kristian. Samuel P. Huntington juga menulis, “Religion is a central defining characteristic of civilizations”. Menurut Christopher Dawson, “The great religions are the foundations of which the great civilizations rest.” Di antara empat peradaban besar yang masih eksis dalam Islam, Barat, India dan Cina, menurut Huntington terkait erat sekali dengan agama Islam, Kristen, Hindu, dan Khonghucu.

Peradaban-peradaban kuno, seperti Mesopotamia dan Mesir Kuno juga menempatkan agama sebagai unsur utama peradaban mereka. Marvin Perry mencatat, “Religion lay at the center of Mesopotamian life. Every human activity political military, social, legal, literaty, artistic was generally subordinated to an overriding religious purpose. Religion was the Mesopotamians frame of reference for understanding nature, society, and themselves; it dominated and inspired all other cultural and human activities.”

Begitu juga dalam tradisi peradaban Mesir Kuno. Faktor agama menempati peranan yang sangat signifikan, “Religion was omnipresent in Egyptian life and acounted for the outstanding achievements of Egyptian civilization. Religious beliefs were the basis of Egyptian art, medicine, astronomy, literature, and government.”

Sebagaimana yang diungkapkan pakar sejarah Melayu, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, menyebutkan, bahwa dalam perjalanan sejarah peradaban Melayu, kedatangan Islam di wilayah kepulauan Melayu-Indonesia merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah kepulauan tersebut. Bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa pengantar di kepulauan Melayu-Indonesia merupakan “bahasa Muslim” kedua terbesar yang digunakan oleh lebih dari 100 juta jiwa.

Sebab itu, peradaban Melayu kemudian menjadi identik dengan Islam. Sebab, agama Islam merupakan unsur terpenting dalam peradaban Melayu. Islam dan bahasa Melayu kemudian berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. Al-Attas mencatat masalah ini, “Together with the historical factor, the religious and language factors began setting in motion the process towards a national consciousness. It is the logical conclusion of this process that created the evolution of the greater part of the Archipelago into the modern Indonesian nation with Malay as its national language… the coming of Islam constituted the inauguration of new period in the history of the Malay-Indonesia Archipelago.”

Ditinjau dari kamus dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementrian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan keidentikkan antara Islam dengan melayu. Disebutkan pula bahwa istilah masuk Melayu mempunyai dua arti, yaitu mengikkut cara hidup orang-orang Melayu dan masuk Islam. Karena itu, berangkat dari pentingnya peranan agama dalam suatu peradaban atau tamadun, maka dapat dijelaskan bahwa tanda-tanda kehancuran suatu tamadun dapat dilihat sejauh mana unsur utamanya yaitu agama dalam peradaban tersebut tetap terpelihara dengan baik. Jika agama yang menjadi fondasi diartikan, peradaban itu telah mengalami satu perubahan yang signifikan. Mungkin peradaban itu tinggal hanya namanya saja. Tetapi, peradaban itu sudah rusak atau sudah hancur.

Beberapa ayat Al-Qur’an memberikan penjelasan tentang kehancuran suatu bangsa. Penjelasan Al-Qur’an ini sangatlah penting untuk menjadi pelajaran, khususnya bagi kita kaum Muslimin, agar kita tidak mengulang kembali tindakan-tindakan yang dilakukan oleh umat terdahulu, yang boleh menjelaskan dan menghancurkan peradaban mereka. Allah SWT berfirman,

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al-An’am: 44)

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al- Isra: 16)

Dua ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kehancuran suatu negeri itu bercerita, bahwa kehancuran suatu kaum erat sekali berhubungan dengan hal-hal berikut: sikap kaum yang melupakan peringatan Allah SWT, sehingga mereka lupa diri dan hidupnya dihabiskan untuk sekedar mencari kesenangan demi kesenangan (hedonisme). Hal ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 24. Kemudian selanjutnya adalah tindakan elit-elit atau pembesar masyarakat yang melupakan Allah SWT dan membuat kerusakan di muka bumi. Apabila di dalam suatu peradaban sudah ada dominan adanya para pembesar, tokoh masyarakat, orang-orang kaya yang bergaya hidup mewah dan berlebihan, maka itu pertanda kehancuran peradaban itu sudah dekat.

Akan tetapi, dari kedua hal tersebut, inti dari kehancuran peradaban atau bangsa, adalah kehancuran iman dan kehancuran akhlak. Apabila iman kepada Allah SWT sudah rusak, maka secara otomatis pula akan terjadi pembangkangan terhadap aturan-aturan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila perzinaan dan riba sudah melanda suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah menghalalkan turunnya azab Allah atas mereka sendiri.” (HR. Thabrani dan Al Hakim)

Dalam sejarah manusia, berbagai kehancuran peradaban di muka bumi sudah begitu banyak terjadi. Dan Allah SWT menganjurkan kaum Muslim agar mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut. “Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana hasilnya orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul Allah SWT).” (An-Nahl: 36)

Sebagai misal, kaum ‘Ad, telah dihancurkan oleh Allah SWT karena berlaku takabbur dan merasa paling berkuasa dan paling kuat. Mereka merasa tiada siapa saja yang dapat mengalahkan mereka, sehingga mereka berkata: “Siapa yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” (Fushilat: 15). Begitu juga kehancuran yang menimpa Fir’aun, Namrudz, dan sebagainya. Di masa Rasulullah SAW, kaum Muslimin yang jumlahnya sangat besar dan berlipat-lipat daripada kaum kuffar, hampir saja dikalahkan dalam perang Hunain. (At-Taubah: 25)

Sejarah juga mencatat, bagaimana peradaban Islam di Spanyol yang sangat agung dan sudah bertahan selama 800 tahun dapat dihancurkan oleh kaum Kristen dan akhirnya kaum Muslimin dimusnahkan dari bumi Spanyol. Paling tidak beberapa faktor ketika Islam tidak lagi dijadikan dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika itu terjadi perpecahan dan kecemburuan antar suku. Faktor kesukuan menjadi lebih utama ketimbang keimanan. Bahkan ada beberapa penguasa Muslim di Spanyol, seperti Ma’mun dari Toledo dan Dinasti Nasrid, mendapatkan kekuasaan dengan bantuan kekuatan Kristen untuk menghancurkan kekuatan Muslim lainnya.

Sejarah jatuhnya Palestina ke tangan Zionis Yahudi juga bisa dijadikan pelajaran bagi kaum Muslimin. Bagaimana suatu kaum minoritas dari segi jumlah dapat mengalahkan kaum Muslim yang jumlahnya lebih besar. Pada tahun 1917, ketika Deklarasi Balfour diumumkan, jumlah orang Yahudi di Palestina adalah 56.000 orang, sedangkan jumlah orang Arab Palestina sekitar 644.000 orang. Tahun 1922 kemudian meningkat lagi, yaitu terdapat 83.794 orang Yahudi dan 633.000 orang Arab di Palestina. Tahun 1931, terdapat 174.616 orang Yahudi dan 750.000 orang Arab Palestina. Tahun 1947, menjelang pembagian wilayah Palestina oleh PBB, jumlah orang Yahudi sudah mencapai 608.225 orang, sedangkan orang Arab Palestina mencapai 1.237.332 orang.

Nah pada tahun 1917, kaum Zionis ini baru menguasai 2,5 persen dari tanah Palestina. Tahun 1947 setahun menjelang berdirinya Israel pada tanggal 14 Mei 1948, kaum Zionis sudah menguasai 6,5 persen tanah Palestina. Mengapa kaum Muslimin kalah di Palestina, dan kenapa sampai sekarang kaum Muslimin yang jumlahnya sekitar 1,3 milyar jiwa belum juga dapat merebut kembali kota suci Jerussalem dan Masjid Al-Aqsha dari tangan Zionis Israel? Padahal, jumlah kaum Yahudi di seluruh dunia, sampai sekarang hanya 17 juta jiwa. Bahkan, hampir setiap hari ada berita tentang pembunuhan kaum Muslimin di Palestina oleh kaum Zionis.

Kehancuran dan kejatuhan berbagai kaum, negeri, bangsa, dan peradaban inilah yang sepatutnya direnungkan secara mendalam dan sungguh-sungguh oleh kita kaum Muslimin, khususnya para ulama dan cendekiawan Muslim. Apakah gejala-gejala kehancuran suatu negeri atau peradaban seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan pernah terjadi dalam sejarah manusia sudah ditemukan dalam wilayah kita? Kalau gejala-gejala itu sudah ada, bagaimana cara menghindarkannya? Ataukah kita hanya berdiam diri saja seolah tidak peduli?

Dalam kenyataan ini, maka peradaban Islam hanya akan bisa menjadi peradaban besar, jika Islam itu sendiri menjadi asas dari sentral dalam kehidupan keseharian kaum Muslim. Jatuh bangunnya peradaban Islam akan sangat bergantung kepada bagaimana umat Islam memperlakukan agama Islam. Ini adalah tantangan besar bagi kaum Muslim Indonesia untuk menunjukkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang agung yang berbasiskan pada tradisi ilmu. Sejarah telah membuktikan, bagaimana peradaban Islam tumbuh dan berkembang melalui pembangunan tradisi ilmu yang dibimbing oleh wahyu.

Jika kaum Muslimin dimanapun ingin bangkit dan muncul sebagai satu umat yang besar dan disegani, maka jalan satu-satunya adalah kembali menjadikan Islam sebagai dasar bagi pembangunan peradabannya. Masing-masing peradaban memiliki karakteristik dan cara untuk tumbuh dan berkembang. Jika suatu peradaban tidak sanggup mengembangkan jati dirinya sendiri dan mengambil pola peradaban lain untuk berkembang, maka peradaban itu hanya akan menjadi bagian peradaban yang dijiplaknya saja. Padahal, Huntington sendiri mengakui, dari semua peradaban yang ada, hanya Islamlah yang pernah mengalahkan Barat dan menempatkan eksistensi Barat dalam bahaya. Huntington mengatakan, “Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice.”

Selain daripada membangun peradaban, yang tak kalah penting dan masih sangat relevan untuk menjadi bahan renungan kita adalah bagaimana kita bangkit meraih kejayaan. Dua hal ini merupakan satu kesatuan yang apabila disadari dengan sepenuh hati akan menjadi kekuatan bagi umat Muslim itu sendiri. Karya tulis Ibnu Khaldun menguraikan hal ini dengan baik dalam bukunya Tarjuman al ‘Ibar wa Diwan al Mubatada’ wal Khabar fi Ayyam al ‘Arab wal Barbar wa man ‘asharahum min dzawa Sulthan al Akbar.

Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara. Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku menzalimi, membenci, dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi.

Kedua, kuantitas dan kualitas sumber daya manusianya. Rakyat yang setia kepada negara akan bertambah makna strategis maupun dampak positifnya secara ekonomi dan sebagainya, jika setiap individunya unggul dan mumpuni. Sebaliknya, keunggulan sumberdaya manusia semata tidak akan banyak berarti jika suatu negara dilanda krisis demografis yang mengantarkannya kepada kepunahan.

Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai hanya dengan begitu saja tanpa perbuatan.

Nah, sekarang jika banyak sekali panduan dan pedoman dalam ajaran Islam itu sendiri, kemudian orang lain malah bisa melihat potensi Islam dalam membangkitkan peradaban Islam, tentulah aneh jika kita kaum Muslim malah tidak yakin dengan potensi kekuatan Islam itu sendiri.

sumber : http://eljinjizy.wordpress.com/2010/11/25/membangun-kembali-peradaban-islam/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s