Cepat Tanggap terhadap Pers

Sedikit flashback pada era baru 10 tahun yang lalu dimana pers benar-benar mengalami dilema berat. Mengapa demikian? Jelas karena tidak ada ruang gerak bagi pers untuk menyuarakan kepada publik terkait realita yang ada. Jangankan untuk mempublikasikan, untuk mencari sumber faktanya saja sangat sulit.

Bahkan ketika itu juga sempat adanya “pembredelan”. Alhasil publik tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di tengah kehidupan mereka. Mereka hanya bisa mengikuti kebijakan yang ada tanpa tau ada apa, bagaimana dan sebagainya. Setidaknya pengalaman tahun lalu bisa dijadikan cermin untuk bisa menjadikan pers sebagai media informasi bagi masyarakat.

Lalu ada apa dengan pers sekarang? Bukankah pers telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, tidak ada lagi pembredelan, tidak ada lagi tindak kekerasan yang fatal kepada para pelaku pers meskipun hanya dalam kapasitas kecil.

Namun seperti yang tertulis dalam surat kabar Kedaulatan Rakyat yang menjelaskan bahwa terjadi peningkatan kekerasan terhadap pers pada tahun 2008 lalu. Ada 17 kasus kekerasan yang dialami oleh pers pada saat itu. Entah itu kesalahan dari oknum aparat atau memang kesalahan dari pihak pers yang mungkin tidak mentaati peraturan yang ada.

Namun yang menjadi fokus disini adalah bagaimana “tanggapan” dari sumber berita itu sendiri. Beberapa kasus yang sering kita saksikan bahwa mereka yaitu orang-orang yang dijadikan sumber berita terkadang justru enggan atau terkesan menutup-nutupi akan hal yang ingin diketahui oleh pers.

Bahkan diperkirakan si sumber berita itu justru mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi. Memang tidak semua hal terutama yang memiliki nilai privasi itu bisa dipublikasikan namun juga hal tersebut menjadi faktor penting misalkan bagaimana kehidupan keseharian seorang pejabat negara atau bagaimana perjuangan seorang pejabat negara untuk membeli negara dan sebagainya.

Saya rasa pers juga memiliki batasan mengenai apa yang layak dipublikasikan atau pers juga memiliki cara sendiri untuk dapat menyampaikan informasi yang kurang layak namun dapat dikemas dengan bahasa jurnalistik yang baik sehingga dapat diterima oleh khalayak ramai. Jadi, untuk apa kebenaran yang ada. Toh ibarat kata pepatah, “cepat atau lambat kebenaran itu akan terungkap”.

Lalu mengapa mesti takut mengungkap kebenaran yang sesungguhnya? Semoga kedepannya nanti pers khususnya di Indonesia bisa semakin lebih baik dan juga lebih berkualitas baik dari segi sumber beritanya maupun dari cara penyampaiannya. Dan juga semoga kiprah wartawan Indonesia dapat dijadikan suri tauladan bagi generasi pers selanjutnya. Amiin…

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 22 , Februari 2009 hal 1 – 2.


oleh : Niken Agustin
Mahasiswi HI UMY angkatan 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s