Menjadi Diplomat tidak Sulit : Wawancara bersama Konjen RI untuk Sydney

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa untuk menjadikan Diplomat sebagai sebuah profesi merupakan suatu hal yang mustahil, terlebih jika dilihat dari puluhan ribu peminat yang mendaftar di Departemen Luar Negeri (Deplu) pada tiap tahunnya ternyata tidak sebanding dengan kuota yang dibutuhkan oleh Deplu itu sendiri.

Anggapan tersebut rupanya menarik perhatian Hangga Fathana, Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang saat ini mengikuti program Double Degree antara UMY dengan Flinders University, Australia. Oleh karenanya, Hangga pun berinisiatif untuk menanyakan hal tersebut (melalui wawancara) langsung kepada Konsul Jenderal (Konjen) Republik Indonesia untuk Sydney, New South Wales, Australia, Sudaryomo Hartosudarmo, yang wilayah kerjanya mencakup New South Wales, Queensland, dan South Australia.

Berikut kutipan wawancara Hangga Fathana (HF) dengan Konsul Jenderal (Konjen) Republik Indonesia (RI) untuk Sydney, New South Wales, Australia, Bapak Sudaryomo Harto Sudarmo (SH).Wawancara ini dilakukannya saat ia mendapat kesempatan untuk mengikuti program magang di kantor Konjen RI di Australia beberapa waktu silam.

HF: Apa pendapat bapak mengenai dinamika hubungan bilateral Indonesia-Australia saat ini?
SH: Kalau membicarakan mengenai hubungan Indonesia-Australia, gambaran yang paling tepat adalah excellent, terlebih saat ini Australia dibawah (kepemimpinan) Kevin Rudd. Hubungan ini benar-benar luar biasa. Kenapa? Hal ini mengingat saat Australia dipimpin John Howard, konon katanya (kepemimpinan) orang liberal berbeda dengan (kepemimpinan) orang buruh. Dengan kata lain, (Kepemimpinan) Australia di bawah (partai) buruh biasanya lebih bagus.

Namun, menurut Menteri Luar Negeri Indonesia, Hasan Wirajuda, kepemimpinan Australia di bawah John Howard yang berasal dari (partai) liberal ternyata juga menunjukkan hasil yang bagus dan ini di luar dugaan. Kemudian, tampil Kevin Rudd dari Partai Buruh saat ini. Dengan kepemimpinan yang baru ini, hubungan Indonesia-Australia diharapkan akan lebih bagus lagi. Hal ini dikarenakan adanya kebijakan politik luar negeri Kevin Ruud. Kevin Rudd mengatakan bahwa pertama, pilar kebijakan politik luar negeri Australia terkait dengan hubungannya dengan Negara Amerika Serikat, kedua dengan PBB, dan ketiga adalah comprehensive engagement with Asia Pacific.

Ketika membicarakan Asia Pasifik, di sini ada Negara Indonesia. Semua orang tahu bahwa Indonesia sangat penting di mata Australia, bukan hanya karena Indonesia-Australia merupakan negara tetangga dan paling dekat, namun juga banyak kepentingan diantara dua negara tersebut.

Hal ini dapat dilihat bahwa Negara yang pertama kali dikunjungi Kevin Rudd adalah Indonesia saat menghadiri United Nations Framework Convention on Climate Change,dan banyak lagi. Oleh karenanya, sekali lagi saya mengatakan hubungan kedua Negara saat ini benar-benar excellent, meskipun hal ini terlepas dalam hubungannya yang terkadang ada up and down, namun dalam state of development, saya lihat hubungan Indonesia-Australia menunjukkan hal (excellent) itu.

HF: Lantas, apa yang menjadi fokus hubungan Indonesia-Australia selanjutnya?
SH: Mengingat hubungan Indonesia-Australia merupakan comprehensive engagement, tentu fokus hubungan kedua negara selanjutnya akan membicarakan mengenai bagaimana mengatur hubungan yang komprehensif seperti bidang politik, keamanan, ekonomi, pendidikan, adanya program beasiswa, penghutanan kembali, terutama pertukaran pelajar dan pemuda. Dalam bidang ekonomi misalnya, kedua negara tergabung dalam G20. Dengan kerjasama itu, hubungan Indonesia-Australia telah diakui sebagai kekuatan baru dan saling menguntungkan di tengah krisis finasial global saat ini.

Untuk Program pertukaran pelajar dan pemuda yang mengedepankan cultural understanding, ini merupakan hal yang luar biasa karena para pemuda dan pelajar itulah yang nantinya menjadi pemimpin masa depan. Ketika pelajar, sebagai pemuda di dalam bangku kampus sudah saling mengetahui budaya, hal ini diharapkan bahwa mereka juga mampu saling memahami budaya tetangganya.

Saya setuju dengan pernyataan yang disampaikan Kevin Rudd bahwa bagaimana kita akan memahami orang lain, apabila kita tidak tahu budaya orang lain tersebut. Hal ini juga yang terjadi dalam hubungan Indonesia-Australia, ketika membicarakan budaya, orang akan menyadari Indonesia mempunyai bangsa dan budaya yang besar. Dengan memahami budaya orang lain, maka perasaan saling memahami dapat di perkuat.
Jadi program kebudayaan, pertukaran pelajar dan pemuda yang dilakukan kedua negara saat ini, pada dasarnya untuk saling memahami budaya Indonesia-Australia.

HF: Bagaimana peran utama diplomat dalam hubungan bilateral Indonesia-Australia?
SH: Pada dasarnya, setiap diplomat yang ditempatkan di luar negeri harus menjalankan fungsi untuk representing, protecting, reporting ,promoting, and negotiating. Dengan kata lain, diplomat (Indonesia) tentunya berada di garis terdepan di negara Australia. Oleh karenanya, kita akan melihat dan mengidentifikasi bidang apa saja yang dapat sebagai perekat dalam hubungan kedua negara.

Bertugas di Konsulat, konjen tentunya tidak menangani masalah politik, jadi kita memfokuskan pada masalah non politik seperti pariwisata, ekonomi, investasi, termasuk dalam bidang pendidikan.

Meskipun saya memang tidak menangani politik, namun saya dapat melakukan fungsi diplomat di ranah yang lain dengan melihat potensi untuk dijadikan hal yang konkret atau nyata.

Sebagai contoh di bidang pendidikan, saya berusaha masuk di pelbagai kampus diantara kedua negara untuk meningkatkan kerja sama, dan sebagai diplomat, saya akan mencoba mengidentifikasi potensi yang ada diantara kedua negara yang bisa digunakan untuk (mencapai) kepentingan nasional Indonesia.

HF: Menurut Bapak, Apakah komponen utama yang perlu dimiliki oleh seorang diplomat?
SH: Intinya, seorang diplomat melakukan fungsi untuk meningkatkan hubungan kedua negara di negara manapunpun ia ditempatkan. Bagaimana seorang diplomat mampu meningkatkan hubungan kedua negara, hal ini tergantung kepada ketrampilan (Skill) diplomat dalam melihat potensi yang dimiliki kedua negara.

Namun untuk melihat potensi, seorang diplomat memerlukan skill, dalam arti bagaimana ia dekat dengan kalangan kampus, para pengusaha, gubernur, dan lain-lain. Nah, skill ini mengandung makna yang bermacam-macam. Ada sebagian orang yang pada dasarnya sudah mempunyai pembawaan diri bahwa orang tersebut luwes, rendah hati, ramah yang membuat orang lain senang. Apabila orang lain senang kepada diplomat, tentunya diplomat akan lebih mampu dalam membuat deal (kesepakatan) dengan orang lain.

Selain itu, di Indonesia yang menganut budaya timur, masyarakatnya dididik dengan kultur andhap asor (be humble), prigel (skill). Kultur andhap asor dan prigel inilah yang menjadi konsep dan modal yang luar biasa bagi seorang diplomat. Jadi, untuk menjadi diplomat itu ternyata modalnya tidak muluk-muluk karena pada dasarnya kita sudah punya konsepnya.

Sebagai contoh, pernah suatu ketika saya diundang pada sebuah seminar leadership. Awalnya, saya bingung akan mengangkat tema mengenai apa. Namun kemudian saya mendapat ide untuk mengambil tema tentang leadership in the Javanese cultural context. Dalam konteks itu, saya membicarakan mengenai ajaran Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Suatu saat ketika saya di Singapura, saya membeli buku yang berjudul Lead by Example karangan John Baldoni. Saya pikir isi dari buku itu tidak berbeda dengan ajaran yang telah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara sejak jaman dahulu tentang bagaimana mengajarkan anak buahnya dengan memberi contoh yang baik.

Namun seorang diplomat juga perlu menyiapkan amunisi lain, lebih dari sekadar konsep andhap asor dan prigel tersebut. Tidak hanya menjadi pribadi andhap asor dan prigel, diplomat juga harus bisa berkomunikasi yang baik dengan orang lain, termasuk penguasaan bahasa asing. Meskipun demikian, untuk menjadi diplomat sebenarnya bukan hal yang tidak mungkin diraih.

HF: Apa pesan Bapak untuk mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UMY yang ingin menjadi diplomat?
SH: Satu hal yang jelas, menjadi diplomat adalah profesi yang sangat elit. Kenapa saya bilang elit? Dalam konteks ini, elit merupakan konotasi positif yang diartikan bahwa jumlahnya sedikit dari jumlah yang banyak. Dengan pengertian ini, maka diplomat menjadi satu profesi yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya dan ini merupakan pilihan, terlebih di Departemen Luar Negeri (Deplu) yang sangat transparan. Semuanya fair.

Bagi teman-teman HI di UMY, saya hanya berpesan bahwa setiap orang silahkan saja menggantungkan cita-cita setinggi langit karena itu sah dan harus dimilki setiap individu. Namun untuk mencapai cita-cita itu, ya harus jer basuki mawa bea. Semua harus dipersiapkan. Jangan pernah berharap jadi diplomat kalau kalian tidak berupaya menuju cita-cita tersebut.

Untuk itu, bagi yang ingin menjadi diplomat, perkuatlah kemampuan bahasa inggris dan perdalam current affair knowledge. Saya tentunya akan bangga apabila suatu hari ada alumni UMY yang bisa menjadi diplomat, kenapa tidak?

HF: Bagaimana pendapat bapak dalam kerjasama Indonesia-Australia dalam bidang pendidikan. Apakah menurut bapak sudah sesuai dengan target?
SH: Seperti yang saya kutip dari Menteri Pendidikan Nasional, bahwa ada imbalances jumlah orang Australia yang belajar di Indonesia. Saat ini diperkirakan 18.000 orang Indonesia menuntut ilmu di Australia, tetapi orang Australia yang belajar di Indonesia ternyata tidak sebanyak itu.

Terjadinya imbalances ini dikarenakan masyarakat Indonesia memang membutuhkan pendidikan yang berkelas dunia, sedangkan Australia sendiri akan berpikir dua kali untuk belajar di Indonesia kecuali bagi mereka yang ingin mempelajari budaya Indonesia atau interfaith dialogue.

Oleh karenanya, tidak salah apabila fakta menunjukkan bahwa Australia akhirnya menjadi tujuan (destination) untuk belajara mengingat secara geografis Australia dekat dengan Indonesia dan juga mutu pendidikannya berkelas dunia.


HF: Bagaimana pendapat bapak dengan program double degree IC Fisipol UMY dengan Universitas Flinders ?
SH: Tentu saja saya senang dengan program double degree ini. Ini merupakan program yang baik karena memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri merupakan suatu kesempatan yang luar biasa.

Program double degree ini akan menjadi jembatan bagi para pelajar mengenai cara belajar, cara berpikir, dan setidaknya memberikan pemahaman kepada mereka untuk mengtahui bagaimana proses belajar di UMY dan Flinders itu seperti apa.

Saya kira manfaat lain dari adanya program double degree adalah membangun jejaring baik dengan professor dan teman di kampus, maupun pejabat yang ada di luar negeri tersebut.

Rabu, 4 Februari 2009
sumber : http://www2.umy.ac.id/2009/02/wawancara-mahasiswa-double-degree-umy-flinders-university-australia-dengan-konsul-jenderal-konjen-republik-indonesia-untuk-sydney-new-south-wales-menjadi-diplomat-ternyata-tidak-sulit.umy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s