Menulis Artikel dan Opini di Media Massa

Materi ini dibawakan pada acara Sekolah Penulis Pertemuan I yang diadakan oleh divisi Pers Mahasiswa KOMAHI UMY . Dengan tema “Menguak Rahasia Menulis di Media Massa” .

oleh Krisno Wibowo*

I. Pengantar

Mahasiswa adalah sebuah elemen masyarakat yang memiliki peran strategis dalam setiap perubahan sosial di sebuah negara. Peran ini terutama didorong oleh idealismenya dalam merespon dan menjawab dinamika perkembangan yang terjadi dalam lingkup kemasyarakatan maupun kenegaraan. Melalui daya kritisnya, mahasiswa cenderung menyoroti setiap ketidakberesan yang berlawanan dengan visi perjuangannya, yakni menegakkan keadilan dan membela pihak-pihak yang tertindas oleh sistem dan struktur yang “menghisap”.
Banyak cara dilakukan mahasiswa untuk mengekspresikan responnya terhadap perkembangan yang terjadi di lingkungannya. Salah satunya adalah melalui tulisan di media massa.

Mengapa di media massa? Karena media massa (pers) memiliki fungsi untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan kritis mahasiswa kepada khalayak pembaca (publik), sehingga pemikiran-pemikiran tadi dapat tersosialisasikan. Publikasi tadi dapat menggalang pembentukan opini publik. Dan, opini publik dapat mempengaruhi pengambilan keputusan/kebijakan pada level-level tertentu, sesuai dengan gaung dan dampak dari ketajaman tulisan tadi.

Di sisi lain, keterampilan mahasiswa untuk menulis selain dapat berdampak sosial, juga dapat berguna untuk dirinya sendiri. Kebiasaan menulis dapat melatih mahasiswa untuk berpikir runtut, sistematis, dan mendokumentasikan gagasan dan pemikirannya melalui tulisan. Sehingga, setiap gagasan yang mucul, tidak hilang dengan sia-sia begitu saja.

II. ”Supporting” Gagasan

1. Mengenali realitas sosial.
Untuk dapat menulis, mahasiswa tentunya harus terbiasa untuk dapat mengenali realitas sosial di sekitarnya. Melalui pengenalan realitas ini, maka mahasiswa akan terlatih untuk dapat menangkap gejala yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Gejala yang terjadi dalam masyarakat, selalu ditandai oleh adanya gerak perubahan, baik perubahan ke arah perbaikan atau sebaliknya perubahan ke arah kemunduran.
Bagaimana melakukan latihan untuk dapat mengenali realitas sosial? Tentunya dengan banyak bergaul/berinteraksi dengan segala lapisan masyarakat, mengenal dan mendengar denyut nadi kehidupan mereka, membaca dan mengamati perkembangan informasi lewat media, dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang kompeten untuk mengulas perkembangan realitas itu.

2. Analisis fakta.
Setelah terlatih untuk mengenal realitas sosial, tahap berikutnya adalah berlatih untuk menganalisis fakta. Yakni, melihat hubungan antara suatu fakta dengan fakta lainnya, kaitan sebab-akibat antara masing-masing fakta. Jika ditemukan ada keterkaitan antara suatu fakta dengan fakta lainnya, perlu dicari tahu apa makna keterkaitan itu, terutama bagi kepentingan publik.

Untuk itu, calon penulis perlu:
1. Mengamati fakta yang sedang aktual, yang jadi sorotan publik.
2. Mengikuti terus perkembangan, termasuk opini-opini yang ada
3. Kalau perlu, melakukan riset, mengumpulkan bahan-bahan dan mempelajarinya.
4. Menentukan gagasan utama Anda. Jadikan itu sebagai SELLING POINT anda.
Hal yang penting diperhatikan adalah kita menggunakan data, fakta, atau referensi lain sebagai kekuatan argumentasi kita.

III. Persiapan penulisan.

1. Identifikasi Isu
Sebelum menulis, perlu ada langkah untuk mengidentifikasi isu yang akan kita gali dan angkat menjadi topik tulisan. Apakah kita akan mengangkat isu ekonomi, hukum, sosial, budaya, pokitik, seni, olahraga, kesehatan, dan lain-lain.
2. Identifikasi persoalan
Setelah satu isu kita putuskan untuk kita angkat, misalnya isu di bidang hukum, kemudian kita identifikasi semakin mengerucut dalam identifikasi persoalan hukum yang terjadi secara aktual akhir-akhir ini. Pada tahap ini kita mulai mengenali realitas hukum yang terjadi, dan mengkaitkan antara fakta hukum yang satu dengan fakta yang lain.
3. Penentuan topik
Dari identifikasi persoalan tadi, selanjutnya kita coba rumuskan satu topik, yang mencerminkan benang merah munculnya persoalan hukum tadi. Topik, dengan demikian, mencerminkan problematik yang akan kita uraikan dalam tulisan tadi.
4. Membuat out line
Dari topik yang sudah kita tentukan, kemudian kita membuat out line,
berupa sistematisasi identifikasi persoalan yang akan kita uraikan. Dalam out line termuat, apa yang sebenarnya terjadi, siapa berkontribusi terhadap terjadinya fenomena itu? Apa sebab femonena itu terjadi, mengapa hal itu terjadi, apa akibat dari fenomena itu? Siapa yang yang paling bertanggungjawab terhadap adanya fenomena itu? Apa alternatif solusi yang dapat ditawarkan?

IV. Struktur penulisan

1. Judul.
Judul artikel haruslah yang mudah dipahami tetapi menarik pembaca, karena pembaca pertama kali akan memutuskan membaca keseluruhan artikel atau tidak, dari judul di atas.
2. Pengantar/lead
Mengantarkan problem yang akan dibahas dalam artikel, atau bisa juga pengalaman penulis yang terkait dengan problem yang akan dibahas. Pengantar ini juga disebut lead dalam tulisan. Sebagai sebuah artikel yang menarik, lead sebaiknya adalah pembukaan paragraf yang menyentak, dan langsung mencerminkan penjelasan awal dari judul artikel.
3. Isi/Body.
Membahas semua uraian persoalan, seperti yang tertuang dalam out line artikel, dan penjabaran dari keseluruhan yang termaktub dalam pengantar artikel. Untuk memperjelas identifikasi persoalan, sebaiknya diberi sub judul. Ini juga akan mempermudah pembaca memahami pokok-pokok persoalan yang diangkat.
4. Kesimpulan
Kesimpulan adalah formulasi dari persoalan yang terkandung dalam artikel itu, sekaligus jika ada, termuat alternatif solusi dari persoalan itu. Atau, minimal ada harapan, imbauan, penekanan kritis dan warning bagi pihak-pihak yang terlibat dalam persoalan itu. Agar, menjadikan artikel itu sebagai bahan refleksi atau bahan perenungan dan pengambilan keputusan.
.

V. ”Take a break”

Setelah tulisan selesai, penulis perlu membuat jeda sebentar untuk beberapa jam, untyk memungkinkan penulis melihat (me-refresh) kesalahan, kekeliruan, kejanggalan logika, dll, yang kemungkinan ada. Atau, akan menambah paragraf untuk mempertajam tulisan.

VI. Pengelompokkan jenis-jenis artikel di Media 

• Bersifat eksploratif, yakni mengungkapkan fakta berdasarkan kajian penulisnya. Misalnya, seseorang menuliskan uraian penemuan teknologi otomotif baru yang irit BBM.
• Bersifat eksplanatif, yakni menerangkan sebuah permasalahan agar dipahami oleh pembaca. Misalnya, penjelasan mengenai tidak logisnnya rencana kenaikan BBM.
• Bersifat deskriptif, yakni menggambarkan suatu permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Misalnya, menjelaskan fenomena kekerasan antarwarga masyarakat.
• Bersifat prediktif, yakni memprediksikan suatu permasalahan yang akan terjadi di kemudian hari berdasarkan perhitungan penulisnya. Misalnya, memprediksikan “kematian” Kota Jakarta sekian tahun mendatang bila kemacetan tidak segera diatasi.
• Bersifat preskriptif, yakni memberikan tuntunan atau pengetahuan kepada pembacanya untuk melakukan sesuatu. Misalnya, bagaimana caranya mengurus paspor, KTP, atau SIM tanpa melalui perantara.

*) Krisno Wibowo merupakan wartawan senior Kedaulatan Rakyat dan kini di Swara Kampus KR , tulisan berasal dari pengalaman dan berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s