Kedangkalan dalam Kompleksitas Budaya Massa

“I’m not afraid of you, I’m afraid of losing you”. Kata Bella Swan sesaat setelah mengetahui bahwa Edward Cullen adalah seorang Vampir, Predator paling cepat dan berbahaya didunia. Tapi apa daya, cinta telah merenggut akal sehat nya, kini dia sadar: ada yang jauh lebih berharga daripada sekedar hidup.

Dialog romantis itu berasal dari film Twilight arahan Catherine Hardwicke yang belum lama ini dilempar kepasar dan sontak menjadi idola kaum muda. Edward Cullen mendadak menjadi prototype cowok ganteng yang sepatutnya. Karakter Bella Swan yang gugup mendadak menjadi panutan para remaja perempuan disemua negara.

Fenomena itu menarik, tetapi bukan Twilight atau Stephanie Meyer (Pengarang Tetralogi Twilight) yang menjadi titik berat disini. Dibalik semua romantika remaja ini, ada banyak hal yang perlu dibenahi dan diberi redefinisi. Kenapa Dialog itu sangat romantis?, kenapa Edward Cullen itu begitu ganteng?, apa itu ganteng? Benarkah bahwa romantis itu harus seperti ‘itu’?. Kalau jawabannya adalah ‘ya’. Lantas apa yang membuat mereka menjadi demikian.

Manusia lahir kedalam sebuah sistem yang sudah tertata sedemikian rupa. Ingat kata Rousseau yang kurang lebih berbunyi: “Manusia terlahir bebas kedalam sebuah belenggu”.

Sudah banyak orang yang mencoba mencari tahu ada apa dan bagaimana sistem sosial seharus diperlakukan. Pemikir-pemikir awal seperti Alfred Kroeber dan Clyde Kluckhohn Memberi anggapan bahwa sistem sosial sebenarnya adalah refleksi dari tindakan manusia itu sendiri.

Definisi konvensional ini yang kemudian yang banyak menjadi acuan di Indonesia, budaya adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, demikian lafal definisi budaya yang banyak mencekoki kita di masa sekolah. Sistem sosial, atau lebih spesifiknya budaya, lahir dari tangan manusia dan diciptakan berdasarkan kemauan manusia itu sendiri. Anggapan ini bertahan cukup lama namun kemudian mental ketika Claude Levi-Strauss datang dan memberi klaim berlawanan: Strukturlah yang menetukan posisi manusia dalam masyarakat.

Menurutnya, relasi adalah komponen sentral tata social masyarakat, tak peduli itu tradisional maupun modern. Tak lama setelah itu, Michel Foucault dan Kaum Post-struktural merebak dengan kritik mereka, serta asumsi bahwa posisi manusia dalam structure sebenarnya tak bisa dipisahkan dengan relasi dan diskursus kekuasaan.

Tak usah jauh-jauh, didekat-dekat kita, banyak anggapan yang sudah mengakar dan dengan sangat terpaksa kita anggap benar karena banyak orang yang menganggap itu benar. Konstruksi ganteng Edward Cullen terasa begitu nyata ditengarai oleh produk-produk kapital yang tenar dan membumi.

Sebenarnya, semuai itu bukanlah sesuatu yang taken for granted (terjadi secara alamiah), melainkan terjadi lewat proses konstruksi yang politis. begitu pula dengan plot romantis ala fiksi-fiksi remaja, pun dengan iklan produk-produk yang tak jarang diasosiasikan dengan gaya hidup.

“Gaya hidup adalah salah satu kata yang akhir-akhir ini sering disalah gunakan. Para Ilmuwan Sosial, jurnalis, orang awam menggunakannya untuk menunjuk pada hampir semua minat, bisa fashion, Zen, Budhisme, atau masakan Prancis…. Jika tahun 1970-an adalah petunjuk akan hal tersebut, kata gaya hidup akan serta merta memasukkan segalanya dan pada saat yang samatak bermakna apapun”. (Sobel 1981:1)

Budaya massa/pop atau yang sering juga diklasifikasikan sebagai low-culture, adalah jenis budaya non-eksibisionis dan menekankan pada unsure “Fun, Play, Display and Pleasure”. Eksibisionis dalam artian tidak menyangkut budaya pertunjukan seni formal seperti yang biasa terdapat pada budaya-budaya tradisional umumnya. Akan tetapi lebih menyangkut pada apa yang lebih fundamental yakni keseluruhan sistem hidup bermasyarakat.

Budaya massa bisa menjadi acuan dan target hidup banyak orang dengan bersandar pada struktur material yang ada saat itu. Elemen budaya massa masuk hingga kecelah-celah terkecil kehidupan masyarakat. Buku Laskar Pelangi, contohnya, yang sekilas tampak memotivasi pembaca untuk terus bercita-cita.

Namun sebenarnya yang dilakukannya tidak hanya sampai disitu, Laskar Pelangi lebih jauh berupaya merekonsturksi ‘cita-cita’ di dalam pemikiran para pembacanya. Di buku itu, teruwujudnya cita-cita tetap berpijak pada standar konvensional Bangsa Indonesia: Tamat sekolah, pintar, bekerja dan dapat uang.

Kenapa pembaca kemudian menganggap konsep cita-cita ala laskar pelangi itu masuk akal? Karena gagasan itu sesuai dengan struktur material masyarakat kita sendiri. Hampir semua cita-cita dipandang sebagai suatu hal yang sama versi masyarakat Indonesia. Sebab kondisi dominan sekarang adalah masyarakat miskin yang mendambakan perubahan ekonomi menuju ketingkat hidup yang layak.

Sehingga cita-cita yang paling ideal adalah seperti yang digambarkan oleh Laskar Pelangi. Bayangkan bagaimana seandainya struktur dasar masyarakat kita berbeda, sosialis misalnya, tak mungkin lagi konsep cita-cita itu sama seperti yang terjadi seperti ketika struktur material kita berbasis kapitalis. Demikian juga dengan budaya pop yang selalu didasarkan pada struktur dasar suatu masyarakat, namun dalam level interpenetrasi yang lebih intens.

Budaya Pop terutama dicirikan oleh bergesernya logika-logika produksi (Ala Marxis) kepada logika konsumen, kalau Zaman Modern dicirikan oleh produksi sebanyak-banyaknya dengan modal yang sekecil-kecilnya, maka era setelahnya ditandai dengan produksi sebanyak-banyaknya untuk konsumsi yang sebanyak-banyaknya. Kaum Posmodernis banyak bergerak dalam kajian ini, Jean Baudrillard, contohnya, mengemukakan bahwa pertukaran komoditas pada zaman ini sudah tidak lagi didasarkan pada standar utilitas, tetapi lebih kepada interaksi tanda dan simbol yang tergantung pada kesepakatan dalam apa yang disebutnya “code”.

Dalam bukunya, Consumer Society, Baudrillard menulis bahwa manusia sepanjang sejarahnya selalu mempunyai simbol untuk dipuja bahkan disembah. Maka komoditas tanda inilah yang menjadi elemen esensial dalam kemasan yang lebih “kekinian”.
Sejalan dengan Baudrillard, Pemikir Perancis lainnya, Jean Francois Lyotard justru dengan berani mengajukan ciri-ciri masyarakat sekarang dengan budaya massa-nya:

Pertama, Legitimasi Prinsip Performativitas yang berdampak pada delegitimasi pengetahuan yang tidak memenuhi krteria efisiensi dan efektifitas. Ancaman bagi ilmu-ilmu estetis dan filosofis, dan masa depan cerah bagi ilmu-ilmu keuangan dan komputer.

Kedua, Perkembangan pengetahuan yang dulu berpusat di Universitas bergeser kearah Lembaga pemikir independent (Think tanks), sehingga pengetahuan menjadi demikian temporal dan pragmatis. Fenomena ini akan sangat tepat bila dikaji lewat perpektif Foucauldian.

Ketiga, Komodifikasi ini menghasut posisi kebenaran kedalam keadaan yang diatur oleh terma utilitas.

Keempat, akhirnya, mereka yang terdidik bukanlah mereka yang memiliki pengetahuan banyak, tapi mereka yang bisa mengakses informasi dengan lebih leluasa a.k.a siapa yang punya banyak informasi, dialah yang berkuasa.

Budaya massa terlahir ditandai oleh poin-poin ini. Karena budaya pop ini menyangkut kehidupan sehari-hari, maka pihak yang sadar dan secara formal membutuhkan pembentukan asumsi demi pemenuhan tujuan mereka (kelas yang memiliki dan mengelola power) mulai melakukan upaya merasuki kesadaran masyarakat.

Di zaman posmodernisme sekarang, hal yang paling signifikan dalam mengarahkan perspesi masyarakat adalah: Media. Lihatlah bagaimana produk-produk ekonomi mapan membentuk persepsi masyarakat dengan begitu rapinya seolah-seolah seperti keadaan yang mereka tawarkan itu adalah kondisi masyarakat seharusnya.

Para iklan ini seperti berusaha menyadarkan kita bahwa produk mereka adalah equipment wajib yang bisa membawa manusia kepada tempat yang semestinya. Iklan bermain dengan konsep-konsep ideal yang menjadi acuan hidup masyarakat sesuai dengan prior knowledge mereka.

Dimana sekali lagi, hal yang paling signifikan dalam memformat prior knowledge itu adalah Struktur material yang diasosiasikan dengan relasi kekuasaan. Eksplanasi mengenai budaya massa membawa kita pada sebuah entitas kronis nan kompleks. Jangankan untuk menjawab, merangkai pertanyaan saja kita harus berpikir berulang kali.

After all, benar kata Baudrillard: “Object is nothing and that behind it stands the tangled void of human relations”. Pertanyaan besar kemudian muncul: Bisakah emansipasi dilakukan terhadap keadaan silang selimpat seperti ini?.

Sumber:
Buku:
Foucault, M. (1972) The Archeology of Knowledge. New York: Pantheon.
Barker, C. (2000, 2004) Cultural Studies, Theory and Practice,. London: Sage Publications.
Sutrisno, M., Putranto, H. (2005) Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.
Lyotard, J-F. (1984) The Postmodern Condition. Minneapolis: University of Minnesota Press.
Storey, J (1996) Cultural Studies and the study of Popular Culture. Atlanta: University of Georgia Press.
Hirata, Andrea (2005) Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

Film:
Twilight (2008). Directed By: Catherine Hardwicke.


oleh :
Makbul Mubarak
Staf Divisi Bahasa dan Budaya KOMAHI UMY

Tulisan ini telah dimuat pada Diplomacy Magazine Edisi I , 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s