Godaan Demokrasi dan Pergolakan Timur Tengah

Demokrasi, ialah suatu kata yang sudah sangat familiar hampir di seluruh masyarakat dunia. Karena ini merupakan suatu sistem pemerintahan yang berlandaskan pada kekuasaan rakyat dimana pemerintah ada untuk melayani masyarakatnya dan bukan sebaliknya. Istilah demokrasi telah ada sejak jaman ancient greece dimana masyarakat telah terbiasa dengan hak asasi Manusia (HAM) yaitu hak dasar yang telah ada pada setiap diri manusia seperti hak berbicara, hak membentuk organisasi dll yang menjadi kekuatan bagi implementasi demokrasi itu sendiri.

Namun ada fakta unik yang menyatakan bahwa sesungguhnya masyarakat yunani sendiri tidak menyukai sistem demokrasi walaupun banyak orang yang menyatakan bahwa nilai-nilai dasar demokrasi berawal dari masyarakat ini. Masyarakat yunani itu sendiri beranggapan jika sistem demokrasi diterapkan dimana setiap orang dapat menjadi pemimpin maka posisi-posisi tersebut dapat diisi oleh orang-orang bodoh yang tidak memiliki kemampuan dalam bidangnya dan sistem itu akan berubah menjadi mobokrasi.

Justru mereka lebih menyukai sistem aristokrasi dimana pemerintah atau pemimpin dipilih berdasarkan intelektualitas atau capabelitynya sehingga sistem pemerintahan berjalan lancar. Hal ini lah yang menjadi suatu yang unik pada masyarakat yunani dimana mereka sering disebut sebagai peradaban berdemokrasi pertama namun sesungguhnya mereka sendiri tidak menyukai sistem tersebut.

Lalu apa yang menyebabkan demokrasi sekarang ini begitu di agung-agungkan di banyak negara bahkan sampai mengakibatkan krisis di berbagai negara di timur tengah?. Mungkin saja iming-iming demokrasi yaitu kebebasan bagi setiap individu untuk mendapatkan apapun yang mereka inginkan menjadi faktor penentu terjadinya pergolakan di berbagai negara di timur tengah.

Demokrasi di era modern banyak yang sudah termodifikasi dan mengalami penyesuaian dalam setiap negara yang menganutnya contohnya indonesia yang menggunakan demokrasi yaitu kebebasan namun diiringi dengan tanggung jawab sehingga ada keseimbangan didalam kebebasan tersebut.

Kebebasan dalam mengemukakan pendapat di muka umum, kebebasan dalam menentukan pemimpin dan menjadi pemimpin adalah bagian dari demokrasi namun sistem ini masih terlalu tabu terdengar di dunia timur tengah karena sebagian besar negara disana masih menerapkan sistem militer atau kediktatoran dimana pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu lama dan hal ini masih jarang disorot oleh media internasional sampai terjadi pergolakan sendiri dari dalam masing-masing negara tersebut.

Negara pertama yang menjadi inspirator pergolakan ini ialah tunisia dimana masyarakat seperti memiliki kekuatan dan keberanian tambahan untuk menentang rezim kediktatoran yang telah duduk lebih dari 32 tahun. Masyarakat telah mencapai titik zenit kejenuhan mereka terhadap sistem pemerintahan yang mengekang mereka dalam banyak hal.

Diikuti oleh Mesir yang juga menjatuhkan rezim kediktatoran Hosni Mubarrak. Masyarakat menyemuti lapangan tahrir square dan bertahan disana lebih dari 10 hari untuk berdemo menurunkan pemimpin mereka tersebut. Memiliki rasa penderitaan yang sama menjadikan masyarakat bangkit dari bumi ke langit dengan beraninya walau sempat dihadang masyarakat pro pemerintah yang kabarnya dibayar oleh pemerintah namun tek sedikitpun semangat mereka surut hingga Mubarrak sendiri turun dari kursi panasnya.

Hal ini pula yang masih di perjuangkan oleh rakyat libya dibawah rezim moammar khadafi namun direspon dengan serangan militer kepada sejumlah pendemo sehingga menuai ancaman keras dari mancanegara.

Tentunya pergolakan-pergolakan ini dilatar belakangi oleh kejenuhan masyarakat terhadap pemerintah yang diktator dan pasti ada tokoh-tokoh intelektual yang telah menggerakan masa, yang mengetahui momentum disaat masyarakat ingin bangkit dan yang meniupkan semangat demokrasi untuk mendapatkan kebebasan mereka sebagai manusia.

Tokoh tokoh inilah yang menjadi pemersatu kekuatan masyarakat dalam menjatuhkan pemerintahan dimana masyarakat ingin demokrasi diterapkan sebagai landasan pemerintahan bahwa masyarakat lah yang harus dilayani dan bukan sebaliknya.

Melihat dari fenomena ini dimana negara-negara di timur tengah telah terkontaminasi dengan ideologi demokrasi ini bukan tidak mungkin krisis ini akan terus berlanjut pada setiap negara yang masih berada dalam masa kediktatoran. Asalkan ada tokoh intelektual yang mengetahui kapan momentum untuk menyatukan seluruh kekuatan masyarakat yang telah jenuh dengan pemimpinnya karena memimpin terlalu lama.

Hingga adanya suatu kejadian besar yang dapat menghentikan hegemoni demokrasi di ranah timur tengah seperti perang dunia atau semacamnya shingga menghentikan godaan demokrasi dalam menciptakan pergoalakan di bangsa arab tersebut.

oleh : Akhmad Rifky Setya Anugrah
Mahasiswa Hubungan Internasional 2010
blog : http://backpacker-moeslemboy.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s