H. Rosihan Anwar : Simbol Kebebasan Berpikir

Lahir di Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922. Rosihan menempuh jenjang pendidikan di sekolah rakyat (HIS) dan SMP (MULO) di Padang. Beliau melajutkan pendidikannya di AMS di Yogyakarta. Berawal dari sanalah Rosihan mengikuti berbagai workshop didalam dan diluar negeri termasuk di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat. Ayahnya adalah Asisten Demang Anwar, gelar Maharaja Sutan di Sumatera Barat.

Rosihan memulai karir jurnalistiknya sejak berumur 20-an, sedikitnya beliau sudah menulis 21 judul buku dan mungkin ratusan artikel di hamper semua Koran dan majalah utama di negeri ini dan di beberapa penerbitan asing. Selain itu juga bermain dalam beberapa film Indonesia sejak tahun 1950, bahkan di salah satu pendiri Perusahaan Film Nasional (Perfini) pada tahun 1950 bersama (alm) Usmar Ismail dan tetap menjadi kritikus film sampai sekarang.

Rosihan adalah bagian dari sejarah Indonesia. Dia seolah ensiklopedia Indonesia berjalan. Karena itu pula Masyarakat Sejarah Indonesia mengangkatnya menjadi salah seorang anggota kehormatannya.

Dalam pengantarnya pada buku H Rosihan Anwar: Wartawan dengan Aneka Citra, Jakob Oetama, Pemimpin Redaksi harian Kompas, mengaambarkan Rosihan sebagai “…wartawan sejati, bukanlah Man of Power melainkan Man of Conscience and of Culture, lebih cenderung kepada suara hati dan kebudayaan daripada kekuasaan.”

Sakit hati Rosihan pada Pemerintah Orde Baru, yang tetap menolak surat kabar Pedoman terbit kembali meski Menteri Penerangan Mashuri sudah memintakannya kepada Presiden Soeharto. Itu tercermin pada penolakannya menjadi duta besar dan berkuasa penuh untuk Vietnam. Rosihan menolaknya secara halus dengan alasan dia tidak bisa meninggalkan anak-anaknya yang masih duduk di sekolah menengah.

Banyak peninjau politik melihat keputusan Rosihan saat itu sebagai tindakan terlalu berani untuk menolak penugasan terhormat dari seorang “Raja Jawa”, tetapi itulah Haji Waang, julukan banyak orang terhadap Rosihan yang mereka ambil dari nama tokoh lugu dan polos dalam tajuk rencana Pedoman setiap Jum’at. Rosihan memang tidak membentak atau menghardik orang, tetapi sentilannya dalam menghujam hati, akan terasa mendengung di kuping.

Beliau juga seorang pendidik, fair, dan selalu memberi kesempatan kepada stafnya untuk maju. Ketrampilannya dalam menulis menjadikan Rosihan kolumnis yang mungkin terbaik di Indonesia saat ini. Dia bercerita sebagai seorang storyteller dan menunjukkan authenticity artikelnya dengan menampilkan diri dalam tulisannya, menjadi saksi sejarah, sehingga pembaca hanyut dalam arus ceritanya.

Bila menulis obituary, Rosihan bercerita tentang the life and work orang bersangkutan dan tempatnya dalam sejarah negeri ini sehingga pembaca bisa meneteskan air mata. Selalu ada warna dalam ceritanya, tetapi tanpa flowery words dan tak ada lubang dalam tulisannya.

Kini pria yang berumur 80 tahunan ini memiliki penampilan yang berbeda dengan penampilannya pada 1968. Bahkan, beliau sekarang tampak lebih rapi karena tidak lagi mengenakan cirri khasnya yang dulu yaitu saputangan di tengkuk untuk melindungi kerah baju dari keringatnya.

Terlepas dari segala kekurangannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, Rosihan adalah panutan para wartawan dalam mengahdapi orang-orang yang dia sebut golddiggers.
(dynar)

BIOGRAFI

Nama : H. Rosihan Anwar
Lahir : Kubang Nan Dua, Sumatera Barat, 10 Mei 1922
Agama : Islam
Isteri : Siti Zuraida Sanawi
Anak : Tiga orang
Pendidikan:
Sekolah Rakyat (HIS)
SMP (MULO) di Padang
Algemeene Middlebare School (AMS)
Bagian A II tahun 1942 di Yogyakarta
Berbagai workshop di Yale University dan School of Journalism di Columbia University, New York, Amerika Serikat
Pekerjaan : Wartawan Senior
Karir :
Reporter Asia Raya di masa pendudukan Jepang (1943)
Redaktur harian Merdeka (1945)
Pemimpin Redaksi Siasat (1947-1957)
Pemimpin Redaksi Pedoman (1948-1961)
Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia / PWI (1968-1974)
Salah satu pendiri Perusahaan Film Nasional (Perfini) tahun 1950 bersama (alm) Usmar Ismail
Kritikus film sampai sekarang
Penghargaan :
Bintang Mahaputra III (1974)
Anugerah Kesetiaan Berkarya sebagai Wartawan (2005)
Alamat Rumah: Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat

Tulisan ini telah dimuat padaa rubrik Profil  di IRN Buletin Edisi 22 , Februari 2009 hal. 5 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s