Ancaman Universalisme Negara Dunia Ketiga

Sepanjang tahun 2008, media telah memperkenalkan Barack Hussein Obama sebagai sosok pria berkulit hitam sebagai manusia ‘tumpuan harapan’ penduduk dunia. Lewat media, Obama dikenal banyak orang sebagai manusia yang akan membawa perubahan, diketahui sebagai kandidat muda berkulit hitam dan melaui media, seluruh dunia tahu bahwa Obama pernah hidup di Indonesia. Di penghujung tahun 2008, Obama seakan menyihir dunia (lagi-lagi) melalui media sehingga suara terbanyak berada ditangannya.

Pada hakikatnya media sebagai lembaga sosial memiliki tanggung jawab besar untuk mengarahkan massa ke arah yang lebih baik. Media yang berfungsi sebagai jembatan informasi bagi masyarakat diharapkan mampu bersikap professional dengan peka terhadap apa yang sebernarnya menjadi kebutuhan untuk sebuah solusi.

Pada kasus krisis ekonomi global yang melanda hampir semua negara, media paling tidak membentuk mindset masyarakat tentang realitas barang atau produksi dalam teknik pemasaran. Lebih dalam lagi, media hadir di tengah masyarakat dunia sebagai ‘wahyu’ untuk sebuah pegangan kebenaran secara umum. Mengungkap yang tersembunyi, menginformasikan apa yang terjadi, menghibur serta menjadi kontrol sosial. Karena sifatnya yang tidak jauh beda dengan pahlawan inilah, insan pers menjadi objek bagi penguasa tertentu yang menginginkan massa ada didalam genggamannya sehingga insan pers harus menjadi buruan yang selalu ditekan atau sebagai budak yang harus bungkam kecuali disuruh bicara.

Sejarah perjalanan negara demokrasi Amerika Serikat pernah mencatat keengganan salah satu jaringan stasiun TV CBS untuk mempublikasikan data industri rokok dalam pemakaian zat kimia untuk meningkatkan pecandu rokok di Amerika Serikat. Bahkan, salah satu stasiun TV terbesar, CNN, harus banting setir ketika pemberitaan itu tidak menguntungkan Amerika. Untuk mempertahankan hegemoninya, penguasa AS selama ini melakukan berbagai cara termasuk mengkudeta gerak insan pers. Dalam dinamika negara demokrasi seperti Amerika dan Indonesia, media adalah jalan pintas terbaik untuk membangun citra sekaligus senjata untuk membunuh karakter. Karena dengan media seorang penguasa dapat menguasai opini publik.

Di awal tahun 2009 ini, kamera insan pers terfokus langkah awal presiden baru Obama dan begitu juga agresi Israel di kota Gaza yang manaruh banyak perhatian. Dalam isu internasional, dua peristiwa besar itu mempunyai korelasi yang sangat kuat. Apalagi di era globalisasi saat ini, sekecil apapun kepentingan itu akan memungkinkan berdampak konflik global.

Namun siapapun yang mempunyai kepentingan itu, dunia pers berada dalam posisi yang berbeda sehingga mampu sebagai rambu-rambu untuk menghindari meluasnya konflik. Dengan pengaruhnya kepada publik, insan pers dapat ‘mengabulkan’ impian masyarakat memiliki pemimpin yang idial. Sebagai badan yang independent, dunia pers juga ikut membantu tegaknya keadilan sebagaimana yang dibutuhkan rakyat palestina saat ini.


oleh : Adam Syarif
Mahasiswi HI UMY angkatan 2008

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 22 , Februari 2009 hal. 4 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s