Perang Korea : Perang yang Belum Selesai

Perang yang dimulai pada 25 Juni 1950 merupakan sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan. Korsel didukung oleh Blok Barat (Amerika Serikat, Inggris, Australia) dan banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB. Korut didukung oleh Blok Timur (Uni Soviet, RRC) yang sebenarnya juga anggota PBB.

Pemisahan Korea

Setelah Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan Blok Poros, sesuai dengan Perjanjian Potsdam (Juli – Agustus 1945) bahwa Korea dibagi menjadi dua: Uni Soviet menguasai bagian utara dengan ideologi komunis dan Amerika Serikat di bagian selatan dengan menerapkan demokrasi liberalnya.

Pemimpin Korea, Kim Il-Sung dan presiden Korea Selatan saat itu, Syngman Rhee bermaksud menyatukan Korea di bawah sistem politik yang dianut masing-masing. Namun, dengan dukungan yang jauh lebih baik di bidang persenjataan, Korut jauh lebih kuat dibandingkan korsel.

Perang Dimulai

Dengan alasan membalas provokasi Korea Selatan, Tentara Korea Utara pada Minggu pagi tanggal 25 Juni 1950 memulai “Perang Pembebasan Tanah Air” dengan invasi darat berkekuatan 231.000 personil dengan bantuan tank T-34-85, pesawat tempur Yak, pesawat pengebom, artileri, pesawat latihan Yak, dan beberapa pesawat mata-mata.
Beberapa jam setelah invasi, Dewan Keamanan PBB mengecam invasi Korut terhadap Korsel melalui Resolusi 82 DK PBB, meskipun Uni Soviet dengan hak vetonya memboikot pertemuan sejak Januari.

Penghacuran jalur logistik oleh pesawat pengebom AS membuat tentara Korut kehabisan suplai dan dapat dikalahkan pada awal September 1950. Bahkan, pada tanggal 1 Oktober 1950 Komando PBB mendorong tentara Korut hingga ke utara, melewati perbatasan dan akhirnya tanggal 19 Oktober 1950, ibukota Korut, Pyongyang, berhasil direbut tentara Korsel dan AS.

Intervensi Cina

Atas dasar “menjaga keamanan nasional Cina” RRC yang berbatasan langsung dengan Korut, mengirimkan bantuan. Pada bulan Januari 1951, gabungan tentara Cina dan Korut membalas dengan menyerang Korsel untuk kedua kalinya dan menguasai kembali Seoul, pada tanggal 4 Januari 1951. Namun, pada 14 Maret 1951 tentara Cina dan Korut harus mundur dari kota tersebut akibat serangan balasan AS.

Pada bulan April 1951 tentara Cina melaksanakan serangan barunya, namun berhasil dihentikan tanggal 20 Mei 1951. Serangan tersebut dibalas oleh tentara PBB hingga tepat di bagian utara paralel 38 (perbatasan awal sebelum perang).

Kebuntuan Konflik

Pada tahun-tahun berikutnya, tentara PBB dan China tetap berperang namun terjadi kebuntuan. Perundingan gencatan senjata dimulai tanggal 10 Juli 1951. Masalah utama dari negosiasi ketika itu adalah repatriasi tawanan perang karena banyak tentara China dan Korut yang menolak kembali ke Utara.

Gencatan Senjata

Pada 27 Juli 1953, proposal gencatan senjata dari India disetujui oleh Korut, China, dan tentara PBB sehingga sepakat untuk gencatan senjata dengan batas di paralel ke-38. Presiden Korsel saat itu, Seungman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Hingga saat ini secara resmi, perang belum berakhir.


Korban Perang

Korban tewas: AS: 36.940 jiwa, China: 100.000 — 1.500.000 jiwa (diperkirakan 400.000), Korea Utara: 214.000 – 520.000 jiwa(diperkirakan 500.000), Korea Selatan: Rakyat sipil: 245.000—415.000 jiwa.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Korea


Ragil Risky Rachman
Mahasiswa HI UMY 2010

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Januari 2011 (tidak terbit) , hal. 1 , 3 , 4.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s