Tanggapan Mahasiswa tentang Pro – Kontra Resolusi PBB atas Libya

Mengamati realita Dunia memang tidak ada habisnya , berbagai peristiwa silih berganti mewarnai kancah Dunia . Di awal tahun ini saja sudah banyak kasus yang sedang hangat – hangatnya dibicarakan seperti , Wikileaks , Revolusi Timur Tengah , Tsunami di Jepang , dan kini adalah Konflik di Libya antara Khadafy dan Rakyatnya yang kini tengah bergejolak .

Sebagai mahasiswa yang kritis tentunya perlu kita cermati dan analisa berbagai peristiwa yang terjadi melalui berbagai sudut pandang . Maka dari itu Divisi Pengembangan Wacana KOMAHI UMY mengadakan diskusi “Pro – Kontra Resolusi DK PBB terhadap Libya” yang bertempat di Lt. Dasar Mesjid Kampus dengan presentator Hadi Sutrisno . Topik ini pas dibicarakan karena konflik yang terjadi di Libya antar Khadafy dan rakyatnya yang telah menewaskan ribuan orang Libya yang hingga kini belum selesai sejak terjadinya konflik pada bulan Februari lalu .

Berdasarkan fakta tersebut dan tindakan – tindakan Khadafy yang dianggap melanggar HAM seperti : melakukan penyerangan melalui udara kepada rakyatnya turut menjadi memicu DK PBB turun tangan untuk melakukan intervensi terhadap konflik di Libya ini . Disamping itu tindakan PBB didasari atas permohonan dari Liga Arab dan negara G8 untuk segera mengakhiri konflik tersebut .

Berbagai cara telah dilakukan PBB maupun negara lainnya untuk melengserkan Khadafy dari posisinya , namun cara – cara tersebut tidak membuahkan hasil . Maka dimulailah voting untuk mengesahkan resolusi di Libya yang akhirnya disepakati sebagian besar anggota DK PBB. Dan mulailah Resolusi DK PBB tersebut diimplementasikan tertanggal pada 17 Maret 2011 yang isinya menyerukan kepada Libya untuk menerapkan zona larangan terbang , ditambah lagi dengan ancaman penyerangan terhadap tentara Khadafy (seperlunya) pasukan koalisi DK PBB jika masih melanggar resolusi tersebut.

Ternyata resolusi ini dilanggar oleh pihak Libya (Khadafy) , pelanggaran ini ditunjukkan pada penyerangan pasukan Oposisi oleh pasukan Khadafy . Padahal dari tujuan utama resolusi PBB ini untuk melakukan gencatan senjata antara satu sama lain . Akibatnya bergeraklah pasukan Koalisi PBB dengan serangan Fajar yang melumpuhkan tempat – tempat persembunyian pro – Khadafy . Setelah penyerangan tersebut dikabarkan terjadi kerusakan infrastruktur dan dikabarkan ada 48 warga sipil tewas akibat serangan tersebut .

Dampak dari kabar tersebut , membuat dunia empati terhadap Khadafy , bahkan beberapa negara mengecam tindakan agresi pasukan koalisi tersebut sebagai tindakan tercela dan melanggar HAM . Bahkan Liga Arab yang semula mendukung resolusi tersebut kini berbalik menentang karena awal dari keinginan Liga Arab untuk melindungi warga sipil Libya , kini justru warga sipil menjadi korban. Maka mencuatlah istilah ‘perang salib’ , namun hal itu dibantah oleh presentator , yang ada disini adalah perang kepentingan , harta , dan gengsi.

Sebagai salah satu negara anggota pasukan koalisi yakni AS dianggap mempunyai kepentingan dalam penyerangan ke Libya tersebut , karena seperti kita ketahui bahwa Libya merupakan salah satu negara penghasil minyak yang berlimpah . Hal ini dibantah Ondra (peserta diskusi) yang menyatakan bahwa AS hanya mematuhi mandat dari PBB untuk menegakkan resolusi PBB di Libya .

Ariel (peserta diskusi) pun mengungkapkan bahwa tidak mungkin sebuah negara menghabiskan biaya besar untuk berperang bila tidak ada motif yang mendasari tindakannya tersebut. Hal inilah yang menjadi pro – kontra dalam diskusi ini . Ketika AS yang notabene di ‘cap’ sebagai negara yang selalu mempunyai ‘kepentingan’ dalam setiap tindakannya , kini bersedia ikut dalam sebuah agresi yang bisa dibilang tidak ‘penting’ .

Novia (peserta diskusi) pun mengungkapkan , banyak kasus yang bahkan lebih parah dari konflik Libya seperti , kasus Hotel Rwanda yang menewaskan lebih dari 1 juta orang . Namun AS tidak beraksi kala itu . Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar ! Kemana AS ketika terjadi pelanggaran HAM besar – besaran seperti ini ?.
Disamping itu , awal terjadinya konflik ini memang berawal cukup rumit dengan berbagai persoalan yang menderu negeri ini . Seperti kediktatoran Khadafy dalam memipin negara selama 41 tahun , sehingga rakyat muak . Kemudian media lokal di Libya dibungkam sehingga tidak ada pemberitaan yang memicu gejolak di negara tersebut , ditambah lagi dengan ‘kebencian’ sebagian besar rakyat yang sudah terakumulasi . Sehingga tidak terelakkan lagi terjadi berbagai aksi yang menuntut mundurnya Khadafy dari jabatannya sebagai kepala Negara Libya .

Sebenarnya jika dilihat secara skala Libya , konflik ini adalah konflik domestik yang melibatkan pemerintah dan rakyatnya . Namun karena terjadi politisasi terhadap isu ditambah lagi perbuatan yang dilakukan Khadafy yang tidak mencerminkan seorang pemimpin yang arif dalam menanggapi rakyatnya , maka terangkatlah isu ini ke kancah Internasional .

Selain itu tidak dapat terlepas juga efek dari revolusi Timur Tengah yang akhirnya merembet ke wilayah Libya . Namun masing – masing kepala Negara mempunyai cara untuk menyelesaikan masalah dalam wilayah kekuasaannya . Hal ini sangat bergantung pada sikap Negarawan masing – masing .

Kembali ke permasalahan awal , Resolusi PBB dipandang sebagai penyelesaian yang kurang tepat dalam menghadapi konflik di Libya . Menurut presentator , seharusnya PBB sebagai lembaga penjaga perdamaian , menjadi mediator atau pihak yang netral dalam masalah ini . Sehingga dapat menjembatani keinginan dari pihak Khadafy dan pihak Oposisi .

Solusi lainnya adalah adanya negara yang netral yang dapat menjadi tempat untuk melakukan mediasi kedua belah pihak , sehingga dapat tercipta MoU kedua pihak . Closing statement dari presentator mengenai diskusi ini : 1 ) PBB sebagai lembaga yang berwenang untuk menjaga perdamaian Dunia , sebaiknya lebih berfikir matang dalam menentukan sikap , dengan memikirkan dampaknya terhadap psikologis suatu negara , 2 ) PBB harus menjaga stabilitas keamanan , yang mempunyai tanggung jawab sebagai lembaga yang mempunyai wewenang dalam collective security of country , 3) Dalam menentukan ataupun menerapkan kebijakan PBB harus mencari Win Win Solution agar dampak dari kebijakan tersebut dapat diminimalisasi.

Dengan demikian diharapkan kembalinya perdamaian di Libya , dan kedua belah kubu yang berseteru di Libya dibukakan hatinya untuk duduk dan berunding dalam menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin . (fikar)

Istilah

collective security of country : pengamanan bersama oleh beberapa negara anggota untuk menjaga stabilitas keamanan wilayah yang tergabung dalam suatu organisasi (PBB).

G8 (negara yang tergabung dalam kerjasama ekonomi) : Prancis , Jerman , Italia , Jepang , Inggris , AS , dan Rusia .

Win win solution : sebuah cara untuk memberikan solusi tepat , agar tidak ada yang dikurangi haknya maupun diberikan hak berlebih . Sehingga hasilnya adil , sama rata , dan tidak memihak.

Tulisan ini telah dimuat pada Spontanews pada tanggal 24 Maret 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s