Konflik Korea : Kawan Yang Diadu

Tanggal 8 Januari 2011 yang lalu bbc.co.uk memberitakan perihal keinginan pihak Korea Utara (Korut) untuk membuka dialog dengan negara saudaranya Korea Selatan. Situs berita Britania Raya ini menuliskan di suatu halaman bahwa the North’s reunification committee telah menyatakan akan mengadakan dialog “segera dan tanpa syarat”, meski belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Korut.

Menarik dan penuh teka-teki seandainya kita flash back ke beberapa bulan silam, tepatnya di bulan Maret, ketika insiden tenggelamnya kapal perang Korsel terjadi. Konon dugaannya kapal perang Cheonan itu diledakkan oleh torpedo yang berasal dari pemerintahan Pyongyang. Meski belum ditemukannya kepastian mengenai darimana serangan itu berasa -toh pemerintah Korut juga tidak mengakuinya- tragedi yang menewaskan 48 marinir Korsel itu telah memicu ketegangan di kedua belah pihak.

Kejadian yang sebenarnya belum teridentifikasi sepenuhnya itu ternyata berbuntut panjang. Sampai akhir 2010 gejolak di antara kedua kubu yang berdaulat tersebut tidak kunjung mereda. Baru akhirnya pada bulan 2011 ada lampu hijau dari Korut untuk membuka lagi ruang dialog yang sempat terkunci rapat.

Yang perlu diperhatikan dari proses prarekonsiliasi Korea bukanlah bagaimana kedua negara bisa secara jujur, terbuka, dan rendah hati untuk melakukan komunikasi. Namun peran pihak ketiga yang bisa jadi lebih menentukan daripada ke dua negara yang sedang bertikai itu sendiri.

Yang masih samar-samar adalah hubungan antara bangkitnya ekonomi Republik Rakyat China (RRC) dengan serangan yang dilakukan oleh Korut terhadap Korsel, Maret dan November tahun lalu. RRC telah dikenal sebagai rekan seideologi Korut yang telah berjasa dalam membantu perjuangan Korut meraih kedaulatan. RRC juga berperan besar dalam membantu angkatan militer Korut dalam perang saudara tiga tahun lamanya.

Sementara itu, Korsel memiliki Amerika Serikat (AS) sebagai teman -dalam hal perspektifnya terhadap keberadaan Korut- yang didasarkan atas kegelisahannya akan entitas suatu negara komunis. Amerika Serikat lah yang berlandaskan aksi polisionalnya ikut membantu Korsel dalam memerangi Korut tahun 1950-1953 lalu.

Namun, seperti yang telah diketahui, kedua negara bersama dengan sekutnya masing-masing akhirnya menemukan jalan buntu. Hingga akhirnya perjanjian gencatan senjata –bukan perjanjian damai- ditandatangani. Paralel ke-38 adalah monumen panjang yang menandai berakhinya aksi saling serang di kedua negara. Anehnya, justru salah satu pihak yang bertikai yakni Korsel tidak rela menandatangani perjanjian itu, karena merasa tidak dilibatkan dalam proses perjanjian.

Sekarang, setelah api konflik tersulut Korut menawarkan diadakannya dialog. Hipotesis penulis yang beranggapan konflik Maret-November justru ditimbulkan oleh pihak-pihak di luar Korea (RRC dan AS) seolah-olah teryakinkan dengan adanya kunjungan hangat perwakilan AS dengan menteri luar negeri RRC, BBC memberitakannya pada 10 Januari 2011.

Logika sederhana penulis adalah: penyerangan Korut atas Korsel sangat dipengaruhi oleh bangkitnya kekuatan ekonomi RRC. Dalam momen bangkitnya RRC tersebut, Korut ingin memanfaatkan teman dekatnya itu untuk merengkuh ambisi-ambisinya yang tertunda akibat gencatan senjata 57 tahun lalu.

Sedangkan RRC, sembari ingin tetap menjaga persahabatan dengan Korut, tidak pula gegabah dengan memusuhi Korsel yang sejak lama berdiri kokoh di belakangnya sebuah negara superpower AS.

Amerika Serikat sendiri juga tidak akan sembarangan mengambil langkah. Karena ia sadar betul sedang berhadapan dengan negara yang kekuatan ekonominya sedang meroket, yang jika dilihat dari kasus Jerman, Jepang, ataupun Rusia, pertumbuhan ekonomi akan berpengaruh terhadap tumbuhnya kekuatan militer.

Melihat logika sederhana yang saya turunkan tersebut dapat disimpulkan pula bahwa konflik yang terjadi antara duo Korea tidak lebih dari sekedar adu-aduan konco. Yang diandalkan bukan kekuatan domestik. Melainkan kekuatan asing yang sengaja dirangkul agar mengesankan sebagai negara tangguh.
Biarbagaimanapun meski ekonomi sedang melejit, kekuatan militer RRC jika dilhat dari anggaran yang dikeluarkan per tahun masih jauh di bawah AS. Bagi negara yang berpikir rasionalis, tak peduli berideologi komunis ataupun kapitalis, momen kebangkitan ini perlu dijaga, supaya tidak berakhir sia-sia dan berjalan setengah-setengah.

Korut telah menunjukkan sikap kooperatif. Sementara AS baru saja bersalaman hangat dengan RRC. Sampai saat ini, suasana konflik terus diredam. Hubungan yang tenang di antara tokoh utama yang terlibat terus diatur sedemikian rupa.Namun apapun itu, kepentingan nasional akan selalu menjadi prioritas utama. Asia Timur dan Korea pada khususnya adalah muara tempat bertemunya kepentingan nasional dengan kebijakan luar negeri yang diputuskan.


Oleh:
Harri Fajri
Mahasiswa HI UMY 2008

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 27 – Januari 2011 . (tidak terbit) Hal . 5 – 7 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s