Dunia dibawah Presiden Obama

Masih teringat jelas di ingatan kita euforia masyarakat Indonesia ketika Barack Hussei Obama yang berasal dari Partai Demokrat terpilih menjadi presiden ke 44 Amerika Serikat mengalahkan Mc Cain dari partai Republik. Masyarakat kita seolah- olah sudah ikut tersihir dan larut terhadap antusiasme terhadap terpilihnya Presiden keturunan Afro–Amerika pertama di AS tersebut, nyaris tidak berbeda dengan antusiasme masyarakat AS itu sendiri.

Bahkan pidato pelantikan Obama yang ditayangkan secara langsung di beberapa stasiun TV swasta di Indonesia mampu menyedot jutaan pemirsa, mereka dengan setia rela menyaksikan dengan seksama melalui layar kaca tersebut hingga larut malam untuk sekedar menyaksikan Obama, sang “ Idola Baru Dunia”.

Tidaklah mengherankan apabila masyarakat Indonesia menyambut Obama sebagai Presiden baru AS tersebut dengan gembira dan antusias. Obama kecil memang pernah tinggal di Indonesia bersama ibunya Ann Dunhan, sempat mengenyam sekolah dasar di SD Menteng 1 Jakarta selam dua tahun. Ayah tirinyapun, Lolo Soetoro berasal dari Indonesia, hal ini membuat Obama mempunyai hubungan emosional dengan Indonesia.

Teman-teman SD Obamapun menggelar syukuran bersama atas terpilihnya sahabat SD mereka sekelas itu, para guru, saudara hingga mantan pembantu Obama di Indonesia merasa sangat bangga karena presiden AS yang terpilih sekarang adalah Barry ( panggilan akrab Obama waktu kecil). Masyarakat Indonesiapun berharap agar terpihnya Obama dapat membawa perubahan kepada dunia seperti pada slogan kampanyenya yaitu “ Change We Believe In”

Tetapi ternyata tidak hanya masyarakat Indonesia yang bereuforia terhadap terpilihnya Obama, masyarakat Kenya, negeri dimana ayah kandung Obama berasal pun juga tidak kalah antusiasnya, mereka sampai meminta pemerintah Kenya untuk membangun bandara khusus untuk Obama agar memudahkan perjalanan Obama bila ingin “mudik” ke kampung halaman ayahnya. Hal ini melebihi antusias masyarakat Kenya terhadap presidennya sendiri.

Indonesia dan Kenya hanya segelintir negara dari banyak negara yang turut tersihir atas pesona dan daya kharismatik Obama. Memang , tidak bisa dipungkiri kalau Obama mempunyai daya tarik magnet yang luar biasa terhadap masyarakat dunia. Pembawaannya yang luwes, senyum yang selalu tersungging di bibir, kecerdasan serta usianya yang masih muda benar- benar merupakan sosok pemimpin yang ideal.

Namun, apakah Obama benar- benar merupakan sosok pemimpin yang ideal? Kita harus berpikir lebih kritis lagi, sudah bukan rahasia umum lagi kalau Amerika adalah sekutu dari Israel begitu juga sebaliknya. Maka dari itu ketika Israel menggempur Gaza selama 22 hari pada awal tahun 2009 kemarin yang mengakibatkan kurang lebih 1200 warga sipil Palestina tewas, sangat terlihat kalau Amerika yang selama ini mengaku sebagai negara yang menjunjung tinggi HAM tampak begitu pasif. Bahkan, AS menjadi satu- satunya negara pemegang hak Veto di PBB yang menolak usulan gencatan senjata Israel terhadap Palestina .

Bahkan dalam pidato pelantikannya pun obama secara jelas mengatakan Israel adalah sekutu dekat AS dan apapun ancaman Israel adalah ancaman bagi AS juga. Padahal negara- negara Arab berharap terpilihnya Obama akan membawa angina segar dalam memecahkan konflik di Timur Tengah dan menarik pasukan militer AS di Irak dan Afganistan. Obama memang mengurangi pasukan di irak tapi menambah pasukan di afganistan. Lalu apa bedanya? Perang tetap saja terjadi , hanya berpindah lokasi saja.

Tidak hanya negara Arab yang berharap pada kepemimpinan Obama, Kuba pun juga berharap dengan terpilihnya Obama, pemerintah AS akan mencabut embargo ekonomi yang selama 46 tahun diberlakukan terhadap negara komunis tersebut. negara-negara ASEAN dan Eropa juga berharap Obama akan membawa perubahan besar terhadap bidang perekonomian dan berpihak pada negara-negara berkembang.

Lalu bagaimana hubungan AS sekarang dengan Iran? Mungkinkah hubungan AS-Iran dapat mesra kembali? Maklum dua negara ini sejak lama menjadi musuh bebuyutan dan menjadi bagian dari konflik dunia, telah menunjukkan tanda-tanda untuk berdamai. Dunia memang berharap dua negara ini bisa berdamai karena bisa memberi konstribusi bagi perdamaian di sejumlah penjuru dunia lainnya.

Sejak terpilihnya Barack Obama sebagai presiden AS, kebijakan luar negeri negara adidaya ini telah berubah haluan.

Sikap pemerintah AS yang cenderung konfrontatif selama ini kini berubah menjadi sikap yang mengutamakan perdamaian. Obama tampak mulai menyadari bahwa sikap konfrontatif yang selama ini diadopsi pendahulunya telah terlalu menguras tenaga AS.

Tapi biar bagaimanapun dunia tidak bisa berharap hanya pada Obama saja. Tidak ada pemimpin yang benar-benar ideal di dunia ini. Bukan tindakan yang tepat kalau dunia hanya mengandalkan Obama sebagai pembuat perubahan. Sungguh sesuatu yang ironis kalau saja kita malah berharap pada obama, karena kita sudah memiliki pemimpin sendiri. Presiden AS memang mempunyai prestige yang lebih tinggi daripada presiden-presiden di negara lain karena AS adalah satu- satunya negara adi kuasa di dunia. Tapi bukan berarti Obama adalah harapan satu- satunya.

Dunia tidak akan bisa berubah hanya karena Obama, tapi dunia bisa berubah kalau masyarakatnya mau merubah dirinya masing-masing.


Oleh:
Anis
Mahasiswa HI UMY 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s