Fungsi Mitos sebagai Sarana Pencapaian Tujuan Politik

Sejarah Keberadaan Mitos

Mitos, berasal dari bahasa Yunani Kuno, muthos. Kemudian berkembang di masa Yunani Modern sebagai mythus. Masuk ke kawasan kebudayaan Perancis menjadi mythe dan akhirnya diserap bahasa Inggris menjadi myth. Istilah ini sering diartikan sebagai sejarah kuno yang berisi sejarah kepahlawanan ataupun kekuatan gaib atau luar biasa. Dalam kenyataan, tiap-tiap bangsa, betapapun biadabnya, mempunyai mitos berupa dongeng maupun takhayul.

Istilah ini sering mencoba menerangkan asal-muasal fenomena alam atau sebagian dari perilaku manusia yang dalam perkembangannya bisa menimbulkan rasa heran ataupun takut. Fungsinya antara lain untuk menjelaskan sebab-musabnya terjadinya fenomena alam, misalnya terjadinya bumi, lautan, gunung, danau, dll. Adapula yang berfungsi untuk menakut-nakuti anak, supaya ia tidak nakal.

Sebagian orang Yunani Kuno, dulu memperlakukan mitos sebagai pijakan awal untuk mencari pengetahuan semata. Cara pandang ini di kelas kemudian hari berkembang mencari sarana pengembangan pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (science). Sebagian yang lainnya memperlakukan mitos sebagai sarana untuk memecahkan persoalan hidup (engineering). Termasuk di dalamnyanya adalah sarana untuk mememecahkan persoalan dan mencapai tujuan-tujuan politik (political engineering).

Beberapa mitos Yunani Kuno yang kemudian dikutip oleh generasi-generasi berikutnya dan berkembang dalam khasanah kajian politik hingga kini antara lain: kuda Troya, kotak pandora, Achilles-heels, dll. Berbagai mitos itu banyak dipakai dalam membuat berbagai perumpamaan taktik dan strategi diplomasi maupun perang.

Mitos Sebagai Sarana Rekayasa Politik

Hans J. Morgenthau dalam Politics Among Nations menulis “politic is a struggle for power (politik adalah sarana untuk mencapai kekuasaan) ”. Sedangkan power (kekuasaan) diartikan sebagai “man’s control ever the minds and actions of other men”. Dalam konteks negara, sarana untuk mengendalikan cara berfikir dan bertindak orang lain itu biasa disebut dengan national-power (kekuatan nasional).

Yang kasat mata (tangible) antara lain berupa: luas wilayah, jumlah penduduk, kepemilikan sumber daya alam, jumlah tentara dan persenjataan (arsenal) yang miliki. Yang tidak kasat mata (intangible), antara lain berupa kualitas sumber daya manusia, kelihaian diplomasi dan propaganda, dan sebagainya.

Dalam konteks inilah, mitos dapat diartikan sebagai kekuatan nasional yang tidak kasat mata (intangibel) yang sangat bermanfaat dalam mencapai berbagai tujuan politik. Dalam berbagai negara yang menggunakan sistem monarkhi (kerajaan), kita sering menjumpai mitos bahwa keluarga kerajaan tertentu merupakan bukan manusia biasa. Di Jepang kita mengenal mitos bahwa kaisar adalah keturunan dewa matahari.

Di Persia dan India masa kerajaan, berkembang mitos bahwa kaisar adalah Cermin Tuhan Di Muka Bumi (Mirrors for Princes). Oleh karena itu, gelar-gelar kebesaran Islam Persia yang kemudian amat lazim terpakai di kalangan raja-raja Melayu banyak menggunakan istilah zhill Allah fi l-‘alam atau zhill Allah fi l-ardi (cermin Allah di muka bumi) dan Syah.

Bahkan raja-raja di negeri Melayu banyak yang mengaku bahwa asal-usul mereka adalah keturunan Iskandar Zulkarnain yaitu Sang Sapurba dari Bukit Seguntang, yang konon menjelaskan kehadirannya dengan istilah:”Kami ini bangsa manusia, asal kami daripada Raja Nusyirwan Adil, raja masyriq dan maghrib, dan pancar kami dari pada raja Sulaiman Alaihissalam”.

Mitos itu mengharuskan rakyat memberikan penghormatan tanpa reserve kepada penguasa. Apabila rakyat melakukan penantangan atau pembangkangan terhadap perintah raja atau “daulat”nya mereka bisa dicap sebagai “durhaka”. Akibat tindakan “durhaka” tidak hanya dihukum dalam arti fisik-material, tetapi juga magis religius yang disebut dengan “tulah”(bencana).

Hal serupa juga terjadi di negeri Jawa. Di masa Hindu-Budha, para raja mengklaim merupakan penjelmaan dari dewa Syiwa atau Wisnu. Penguasa kraton Jogjakarta hingga saat ini bergelar Sayidin Panatagama Khalifatullah Satriya Ing Alaga Sri Sultan Hamangku Buwana, diyakini merupakan suami dari penguasa Laut Selatan (Nyai Roro Kidul). Karena itu, bersikap sembrono apalagi melawan kekuasaannya bisa menyebabkan pelakunya akan kuwalat (tertimpa bencana).

Misalnya, pada tahun 1586, Sultan Pajang Hadiwijoyo bermaksud menyerang Sutawijaya (penguasa) Kotagede. Saat itu Gunung Merapi meletus hebat disertai angin badai yang melanda kawasan Hutan Mentaok. Akibatnya, Sultan Hadiwijaya dari Pajang yang hendak menumpas pemberontakan Danang Sutawijaya mengalami kecelakan fatal. Konon, sesampainya tepi sungai Opak sekitar 5 km dari Kotagede, Sultan Hadiwijaya terjatuh dari dari punggung Gajah Kyai Liman. Akibatnya ia “mBanyaki” (sekarat) seraya merintih kesakitan “Biyung-Biyung”.

Maka, sebagai penanda sejak itu tempat itu hingga kini dikenal sebagai desa Banyakan dan Piyungan. Dan sejak itu pula dikalangan penduduk Jogja muncul istilah “sisa-sisa laskar Pajang”, untuk menyebut para pahlawan kesiangan.

Hingga saat ini misalnya, di kawasan nJeron Beteng (benteng istana raja Jogja) rakyat jelata dilarang mendirikan kawasan bertingkat. Tanya kenapa? Karena mereka konon tidak boleh mendirikan bangunan lebih tinggi dari pada dua bangunan inti Kraton, yaitu Siti Hinggil (yang artinya Tanah Tinggi) dan Sasana Hinggil (Tempat Tinggi). Siti Hinggil yang terletak menghadap Alun-Alun Utara (AAU) atau Alun-alun utara (Altar), adalah tempat raja bertahta sambil menghadap garis imajiner yang berhubungan dengan Tugu Jogja (Wittepaal) dengan Gunung Merapi.

Sedangkan Sasana Hinggil yang terletak menghadap Alun-alun Selatan (Alkid= Alun-alun Kidul), adalah tempat pementasan wayang (dari kata ayang-ayang=bayang-bayang); sebagai simbol dinamika kehidupan manusia. Dari tempat itulah, raja biasa mengheningkan cipta ke arah garis imajiner yang berhubungan dengan Panggung Krapyak dan Pantai Parangkusuma.

Bagaimana kalau ada oknum di nJeron Beteng yang nekat membangun rumah lebih tinggi dari Siti Hinggil dan Sasana Hinggil? Believe or not, konon si pemilik rumah akan menemui berbagai petaka, misalnya seret rejeki maupun perjodohannya. Jikalau gadis, ia akan bisa berstatus parkas (prawan kasep) atau pratu (prawan tuwa). Jikalaulah perjaka, maka ia bisa berstatus Joko Leylor alias Bola (Boezang Lapoek). Kalau ia mahasiswa, maka akan payahlah nilai IP (indeks Prestasi)nya. Bisa-bisa ia akan berstatus Nasakom (nasib satu koma) maupun Mapala (Mahasiswa Paling Lama).

Begitulah pada akhirnya, mitos menjadi sebuah senjata politik bagi para penguasa, terutama dalam kaitannya dengan kekuasaan dalam lingkup kerajaan, dalam mempertahankan status quo mereka. Dan tidak dapat dipungkiri, walaupun kadang tidak dapat dinalar dengan akal, namun kadang kekuatan mitos justru mengalahkan bentuk strategi-strategi politik lainnya.


oleh :
DR. Sidik Jatmika, M.Si
Dosen pengampu mata kuliah di konsentrasi dunia islam dan sejarah dunia
Jurusan ilmu hubungan internasional UMY

Tulisan ini telah dimuat pada Diplomacy Magazine Edisi I , 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s