Kebangkitan Ekonomi Cina : Sebuah ancaman

Kondisi ekonomi China setelah kalah perang dengan Jepang pada tahun 1937 sangat mengkhawatirkan. Kemerdekaan yang diraih oleh China pada 1 Oktober 1947 juga tidak membawa perubahan. Mao Zedong sebagai pemimpin RRC tetap menjalankan sistem isolasi yang mana pada tahun 1890 China memutuskan untuk menutup diri dari dunia luar. Kebijakan Great Leap Forward (lompatan jauh kedepan), Revolusi Kebudayaan, dan pengekangan terhadap IPTEK dari kepemimpinan Mao telah membawa China semakin terpuruk, sebanyak 30 juta warga China kelaparan dan para pelajar tidak ada yang memiliki ijazah.

Namun Sejak Deng Xiao Ping menggantikan kepemimpinan Mao, pada 1978 Deng mulai membuka sistem isolasi yang dianut China dengan melakukan Reformasi ekonomi termasuk mengundang para investor asing ke China. Inti dari reformasi ekonomi Deng Xiao Ping adalah reformasi pasar-bebas yang terstruktur dan bertahap, menuju kapitalisme khas China dan ekonomi yang sangat berorientasi pada ekspor. Kondisi perekonomian nasional China perlahan semakin membaik hingga tumbuh menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia.

Dalam kurun waktu 20 tahun, RRC telah menjadi sebuah negara raksasa dengan kekuatan penduduk terbanyak di dunia, perekonomian maju dan didukung oleh kekuatan militer yang tengah mengalami modernisasi. Pertumbuhan ekonomi China sangat menakjubkan. Pada tahun 1979 ekonomi China tumbuh 6,8%, GDP tahun 1998 sebesar 7955.3 Miliar Yuan dan cadangan devisa China mencapai US$ 145 Miliar. Tahun 1978-1997 industri China telah tumbuh dengan angka sekitar 12% per tahun dan 1998 meningkat menjadi 3.354,1 Miliar Yuan. Strategi baru perekonomian China adalah bagaimana menjadikan China sebagai pusat produksi sedangkan distribusi dan konsumsi diserahkan kepada pasar-pasar internasional dan Uni Eropa merupakan tujuan utama dari pemasaran barang-barang China.

Uni Eropa telah berhasil menjalankan pasar tunggal bersama (common market) dan menjadi lokasi yang sangat vital dalam perdagangan internasional. Negara UE juga telah dijadikan sebagai tujuan pasar dengan peluang yang cukup besar bagi negara diluar anggota yang memiliki hubungan ekonomi dengan UE. Para pengusaha China memanfaatkan pasar potensial UE yang terbuka untuk memperluas ekspansi pasarnya. Sehingga membuka persaingan yang sangat kompetitif antara produksi China yang berbiaya produksi murah dan berkualitas cukup baik dengan produksi negara-negara UE yang berbiaya produksi cukup mahal dan berkualitas baik.

Masuknya produk China ke Eropa telah didahului oleh para imigran China yang ingin berusaha memperbaiki kehidupannya. Banyak warga China mencari pekerjaan hingga ke negara-negara Eropa, baik secara legal maupun illegal. Hampir semua imigran China hanya bekerja sebagai buruh di perusahaan-perusahaan besar Eropa. Keberadaan warga China telah memberikan keuntungan bagi perusahaan karena upah tenaga kerja sangat murah namun semangat kerja tinggi. Seiring berjalannya waktu, para buruh China tersebut berusaha mendirikan bisnis sendiri. Jumlah bisnis yang dijalankan oleh warga keturunan China semakin bertambah. Kebanyakan perusahaan yang dibangun oleh para imigran China bergerak di bidang pertekstilan. Masuknya tekstil China yang sangat kompetitif ke Eropa telah diikuti oleh produk elektronik, motor, baja, produk kimia, mobil, dan film animasi.

Dampak dari menjamurnya para imigran yang menjadi pengusaha telah menggeser para pengusaha Eropa. Banyak perusahaan-perusahaan baik tekstil, sepatu olahraga, pabrik otomotif, hingga perusahaan infrastruktur terpaksa menutup pabrik-pabriknya karena sudah tidak dapat berproduksi lagi setelah berkompetisi dengan China. Sebagai akibat dari banyaknya perusahaan-perusahaan di berbagai negara Eropa menutup usahanya, maka banyak negara Eropa menghadapi krisis pekerjaan, seperti Jerman, Italia, Perancis dan lainnya. Pasar UE kini telah dihadapkan pada kompetisi dengan Bangsa China. Menjamurnya berbagai jenis perusahaan keturunan China dan sangat terbukanya pasar UE bagi produk-produk negara berkembang seperti China telah mengancam perekonomian UE. Inilah yang menjadi karakteristik perusahaan China yang menonjol yaitu kecenderungan untuk meneruskan produksi atau bahkan melakukan ekspansi produksi.
Produk-produk China yang ada di pasaran UE mampu bersaing dengan produk local Eropa yang bermerek sekaligus. China kini bukan lagi sebagai negara berkembang, tetapi telah bangkit menjadi sebuah Negara dengan kekuatan ekonomi raksasa. Kebangkitan perekonomian China akan menjadi sebuah ancaman bagi perekonomian UE. Bagaimana sebenarnya hal tersebut dapat terjadi?

1. Kualitas dan Harga

Barang-barang China yang masuk ke pasar UE mampu bersaing secara kualitas dan harga. Secara kualitas, produk China mampu bersaing dengan produk terkenal Eropa seperti Givenchy, Yves Saint, Laurent, Versace, Valentino dan lainnya. Sedangkan secara harga, produk China jauh lebih murah hingga sepertiga atau 40 persen bahkan lebih dari harga produk asli Eropa. Sehingga dengan kualitas satu level dibawah produk terkenal Eropa, dengan harga yang terjangkau membuat konsumen pasar UE lebih memilih untuk mengkonsumsi produksi China.

2. Biaya Tenaga Kerja

Banyak Para pengusaha Eropa terpaksa menutup usahanya karena telah kalah bersaing dengan pengusaha pendatang dari Cina yang membuka cabang pabrik atau perusahaanya di Eropa. Hal tersebut disebabkan oleh Para pengusaha eropa harus mengeluarkan upah buruh yang sangat tinggi untuk memproduksi produknya sedangkan para pengusaha China mengeluarkan biaya untuk memperkerjakan tenaga kerja orang China jauh lebih rendah, sekitar seperenam dan seperempat dari tenaga kerja orang Eropa.

3. Etos Kerja 

Rata-rata para tenaga kerja Eropa hanya memiliki jam kerja kurang lebih 6 jam per hari, sedangkan para tenaga kerja China mampu bekerja hingga dua kali lipat dari jam kerja pesaingnya bahkan hampir 15 jam dalam satu hari. Perbandingan lamanya jam kerja antara pekerja Eropa dengan perkerja China berpengaruh terhadap kuantitas produk atau barang yang dihasilkan.

Sehingga para pengusaha China hanya mengeluarkan sedikit biaya untuk tenaga kerja namun mendapatkan jumlah produk yang berkali lipat dari jumlah produk perusahaan Eropa. Sedangkan para pengusaha Eropa yang mengeluarkan biaya tenaga kerja tinggi hanya menghasilkan produk yang jauh lebih sedikit. Hal ini tidak mencerminkan sebuah fenomena eksploitasi terhadap tenaga kerja China, tetapi para pekerja China mempunyai semangat kerja yang tinggi dan tertangguh di dunia.

Kebijakan Reformasi Kebudayaan dan pengekangan terhadap IPTEK oleh Mao telah menjadikan rakyat China sangat terpuruk dan mungkin merupakan masyarakat paling terbelakang. Namun Reformasi ekonomi yang dilakukan oleh Deng Xiaoping telah menciptakan SDM siap pakai dengan kreativitas yang tidak terbatas. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 miliar jiwa yang dulu menjadi sebuah beban bagi negara, kini telah lahir sebagai kekuatan pendukung bagi ekonomi nasional China. SDM China yang berkualitas merupakan salah satu hasil dari kebangkitan ekonomi China.

Eropa kini tengah mengadapi masalah serius atas dampak kebangkitan China yang tidak mudah untuk ditanggulangi hanya dengan perubahan kecil yang bertahap. Fenomena kebangkitan China adalah sebuah tantangan sekaligus ancaman yang belum pernah dihadapi oleh Eropa bahkan dalam sejarah kapitalisme global sekalipun. Fenomena ini juga mencerminkan dampak dari sebuah sistem pasar bebas atau liberalism. Apakah ini dampak negatif dari ketidaksiapan mengahadapi globalisasi?


oleh :
Utami Septi Dewi
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UMY 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s