Mesir Saat Ini dan Indonesia saat Reformasi


Gejolak Politik di Mesir merupakan ekspresi dari kegundahan, kegelisahan dan ketidakpuasan rakyat terhadap tata urus pemerintahnya”

Masih terbesit di benak kita tentang kekerasan dan kekacauan yang terjadi di Tunisia waktu itu, yang menuntut turun Presiden mereka Ben Ali. Dan sekarang kekacauan dan kekerasan itu beralih ke Mesir, Negara yang terkenal terbanyak penduduknya di negara Arab ini melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut presiden mereka Husni Mubarak untuk turun. Demonstrasi massa pendukung dan penentang kepemimpinan Presiden

Mesir, Hosni Mubarak, berkumpul di Lapangan Tahrir. Mereka menyuarakan aspirasi mereka terhadap Pemimpin mereka yang dikenal otoriter.

Menurut Ibu Siti, gejolak Politik di Mesir merupakan ekspresi dari kegundahan, kegelisahan dan ketidakpuasan rakyat terhadap tata urus pemerintahnya. Ratusan ribu orang turun ke jalan-jalan untuk menuntut turunnya Husni Mubarak yang sudah berkuasa lebih dari 30 tahun. Lebih dari 125 orang tewas dalam rangkaian aksi unjuk rasa itu dan lebih dari 1000 orang lainnya ditangkap pasukan keamanan Mesir.

Mirip dengan yang dialami Tunisia, Mesir dihadapkan dengan problem yang sama, yaitu rezim diktator yang bengis, yang anti Islam dan krisis ekonomi. Selama 30 tahun pemerintahannya Husni Mubarak menggunakan tangan besi untuk membungkam lawan-lawan politiknya. Penjara-penjara Mesir dipenuhi dengan tahanan politik yang mengalami penyiksaan , terutama dari kalangan gerakan Islam seperti al Ikhwanul Muslimun, Tandzimul Jihad dan Hizbut Tahrir. Siapa saja yang berbicara anti Mubarak, menginginkan syariah Islam , anti Israel, akan ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara kemudian disiksa tanpa ampun. Mesir juga bekerjasama dengan CIA untuk menyiksa mereka yang dituduh oleh Amerika Serikat sebagai teroris.

Lembaga-lembaga HAM internasional berkali-kali melaporkan adanya pelanggaran kemanusiaan yang meluas di negara itu. Intelijen Mesir pun bekerjasama dengan Mossad untuk melakukan pembunuhan keji terhadap aktifitis Islam dan pejuang Palestina.

Mesir juga telah mengalami salah urus yang parah dibidang ekonom dekade terakhir. Menurut Bank Dunia sekitar 40% dari penduduk Mesir atau sekitar 30,8 juta orang, hidup dalam kemiskinan. Ekonomi Mesir telah hancur dan juga mengalami malapetaka di bawah IMF dan Bank Dunia. Mesir dipaksa untuk memotong subsidi pangan dan merestrukturisasi ekonomi ke arah jasa dan pariwisata. Akibatnya sejak tahun 2000 Mesir mengalami krisis pangan dan bergantung kepada impor.

Ikhwanul Muslimin merupakan salah satu komponen di dalam negeri Mesir, yaitu gerakan Islam, yang selama ini banyak memberikan kritik terhadap pemerintah, sekaligus banyak mengalami penyiksaan dari pemerintah. Sejak awal, Ikhwanul Muslimin tidak lain adalah organisasi Islam yang beraktivitas untuk mewujudkan reformasi menyeluruh di semua bidang politik, ekonomi, dan sosial dengan segala cara perubahan yang damai dan gradual. Ikhwanul Muslimin berusaha untuk mengembalikan kedaulatan rakyat, hak-haknya, serta menghormati kehendak dan pilihannya.

Sikap hipokrit Amerika Serikat sangat tampak dalam gejolak politik di Mesir ini. Kita tahu bahwa AS selama ini menjadi koalisi setia Mubarak di Timur Tengah. Setelah merebut Mesir dari pengaruh Inggris pada tahun 50 an lewat Gamel Abdul Nasser, negara Paman Sam ini berusaha tetap mempertahankan pengaruhnya di Mesir. Setelah Israel , Mesir merupakan negara yang mendapat bantuan dana terbesar kedua dari Paman Sam ini.

Disamping bantuan militer , Washington mengelontorkan sekitar 1,5 milyar US dolar setiap tahunnya untuk Mesir. Dalam mensikapi krisis Mesir saat ini, Obama tampak sangat hati-hati. Negara ini tidak ingin kehilangan pengaruh di Mesir.

AS khawatir perubahan di Mesir akan memunculkan kelompok Islam yang tidak sejalan dengan kepentingan Amerika. Meskipun demikian, haluan Luar Negeri AS di Mesir sangatlah jelas, yaitu AS menyerukan transisi mulus di Mesir yang dengan poros demokrasi dan HAM. Sikap yang dipertanyakan banyak pihak. Bukankah selama ini AS lah yang terus mendukung rezim represif Mubarak yang justru tidak demokratis dan banyak melanggar HAM ? Perlu dicatat , Amerika akan selalu bersikap pragmatis. Kalau memang tidak bisa dipertahankan , tidak ada yang menghalangi AS untuk mencampakkan Mubarak .

Seperti yang dilakukannya terhadap Suharto di Indonesia, atau Marcos di Philipina . Amerika akan mengganti Mubarak dengan rezim baru yang tampak demokratis tapi masih dibawah kontrol Amerika. Beberapa tokoh oposisi yang dipahlawankan sebagai pengganti Mubarak, seperti Muhammad el Baradei, sepertinya juga dibawah kontrol Amerika. Dia adalah Mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) , sebuah organisasi antar-pemerintah di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa , pernah mendapat Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2005. Inilah yang harus dicermati oleh rakyat Mesir.

Mesir mestinya mengambil pelajaran dari peristiwa sejenis yang pernah terjadi di dunia Islam. Reformasi di Indonesia, misalnya, memang berhasil menumbangkan Soeharto. Namun hingga kini persoalan Indonesia belum selesai. Apa yang di era Soeharto dikritik oleh demonstran seperti maraknya korupsi, kolusi, mafia peradilan, kemiskinan, justru kembali berulang saat ini.

Dalam beberapa hal bahkan lebih parah. Kehidupan ekonomi rakyat pun tidak lantas membaik pasca reformasi. Era reformasi justru melahirkan kebijakan ekonomi kapitalisme neo liberal anti rakyat seperti privatisasi, pengurangan bahkan pencabutan subsidi, pasar bebas dll. Hal sama juga terjadi di Pakistan. Diktator Musharraf berhasil ditumbangkan dan diganti dengan pemerintahan demokratis. Hasilnya, pemerintah demokratis itu sama saja dengan diktator Musharraf, yaitu menghamba kepada barat, khususnya AS.

Perekonomian Pakistan pun tak juga bangkit. Kehidupan rakyat tetap tidak banyak berubah. Begitu juga di Bangladesh, pasca tumbangnya penguasa militer Zia ulHaq dahulu. Juga yang terjadi di dunia arab, pasca tumbangnya rezim King Faisal di Irak, Saddam Husein di Irak, raja Fuad di Mesir, Anwar Sadat di Mesir tahun 1981, Shah Reza di Iran, dsb.

Semuanya sama, hanya berakhir dengan pergantian rezim tanpa ada perubahan sistem. Hasilnya dapat kita lihat dan rasakan. Dunia Islam termasuk negeri ini tetap saja terpuruk. Rakyatnya banyak yang menderita sementara kekayaannya lebih banyak dikuasai oleh segelintir orang bahkan dirampok oleh atau malah diserahkan kepada kafir barat yang sejatinya adalah musuh umat.

Pelajaran penting dari semua itu adalah bahwa perubahan dan pergantian rezim saja tidak cukup. Tentu sangat disayangkan kalau perubahan di Mesir hanya berakhir pada pergantian rezim, apalagi yang sama-sama masih dikontrol oleh Barat.

Pangkal masalahnya bukanlah sosok Mubarak, Ben Ali, Soeharto, Musharraf, Qaddafi, Ali Abdullah Saleh, Raja Abdullah atau rezim-rezim lain. Pangkal masalahnya adalah sistem sekuler demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan oleh rezim-rezim itu. Sebab persoalan Timur Tengah dan negeri Islam lainnya pada dasarnya justru karena keberadaan rezim yang tunduk kepada kepentingan Amerika yang menerapkan sistem kapitalisme untuk kepentingan poros negara penjajah.

Bahkan perubahan sebatas rezim tanpa disertai dengan perubahan sistem akhirnya
mendudukkan “penumpang gelap,” yang menjadi kaki tangan poros imperialis. Rezim diktator jatuh, diganti oleh rezim baru yang masih pro Barat baik Amerika, Inggris atau Prancis. Menerapkan sistem yang sama. Dan persoalan yang sama pun akan muncul berulang kembali.

Saatnya kita berupaya mewujudkan gelombang perubahan hakiki. Di mana rakyat tidak hanya menuntut sekadar pergantian orang tapi juga sistem. Karena rakyat akhirnya menyadari pergantian orang tidak banyak membawa perubahan berarti, tanpa perubahan sistem. Untuk itu ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan: Pertama, sistem alternatif itu harus disiapkan. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam dengan syariahnya yang telah diturunkan oleh Allah SWT, Zat yang Mahatahu, Mahaadil lagi Maha Bijaksana.

Allah SWT menyindir manusia dengan mengatakan : Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50). Kedua, desain bangunan sistem Islam harus terus dikomunikasikan dan dipahamkan kepada umat, terutama para ulama, tokoh, militer dan ahlul quwah (pemilik kekuatan). Upaya ini harus dilakukan secara massif dan simultan. Sehingga umat termasuk tokoh,ulama dan Ahlul Quwah paham akan kebaikan sistem Islam. Mereka paham bahwa penerapan sistem Islam dengan syariahnya didalam bingkai khilafah merupakan

konsekuensi keimanan. Kita turut prihatin atas kejadian ini, namun ini adalah pelajaran bagi pemerintah dan pemimpin kita juga agar betul-betul memperhatikan aspirasi rakyatnya.

Hasil wawancara dengan Ibu Siti Muslikhati (Dosen HI UMY).


Oleh: Novi Rizka Amalia (Mahasiswa HI UMY 2009)

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 28 , Februari 2011 hal. 1 – 4.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s