Efek Domino Timur Tengah

Efek Domino adalah suatu istilah yang pertama kali diungkapkan oleh John Foster Dulles, mantan Menlu AS tahun 1953 – 1959, yang menggambarkan pada saat itu dunia akan satu persatu jatuh ke tangan komunis begitu mudah seperti permainan domino. Hal ini dibuktikan dari terbentuknya komunisme pertama kali tahun 1917 setelah Revolusi Bolshevik di Rusia, setelah itu tahun 1945 terbentuk Jerman Timur, lalu Perang saudara di Cina yang dimenangkan oleh oleh komunis tahun 1948, selanjutnya Perang Korea tahun 1950, dan Perang Vietnam tahun 1970-an. Istilah efek domino untuk pertama kalinya digunakan disini.

Istilah yang sama digunakan untuk menggambarkan fenomena-fenomena serupa, termasuk gelombang demokratisasi dari tahun 1970-an sampai 1990-an di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di Timur Tengah, demokratisasi telah berlangsung sejak akhir Perang Dunia I di Turki dipimpin Mustafa Kemal Pasha, diikuti Mesir, Suriah, Irak dan yang masyhur adalah Revolusi Islam di Iran tahun 1979 yang bermula dari kerajaan menjadi republik.

Yang terjadi saat ini adalah gelombang demokratisasi ke-2 yang terjadi di Timur Tengah. Bermula dari Tunisia, Mesir, Yaman, dan negara Timur Tengah lainnya.

Lalu, krisis kesetaraan, yaitu timbulnya kesenjangan (gap) baik politik maupun ekonomi. Dalam bidang politik, penguasa di Timur Tengah umumnya sangat powerful ditandai dengan sistem satu partai, sehingga mampu berkuasa puluhan tahun. Di bidang ekonomi juga dipengaruhi oleh para penguasa yang begitu kuat, yang mendapat berbagai akses penguasaan ekonomi.

Krisis keberlanjutan ditandai dengan keadaan penguasa Timur Tengah yang rentan untuk digulingkan baik dari dalam negeri, berupa kudeta, aksi massa, atau pembunuhan, maupun dari luar negeri, berupa intervensi.

Krisis-krisis tersebut dialami oleh hampir semua, bahkan tidak ada satu negara di Timur Tengah yang lolos dari efek domino ini, yang memungkinkan terjadinya demonstrasi besar-besaran, termasuk Israel yang telah menganut sistem demokrasi multi partai. Koalisi antar partai yang rapuh dan perlawanan dari rakyat Palestina yang tertindas sejak sekian lama adalah potensi ancaman Israel ke depan.

Selain Israel, negara yang berpotensi mengalami dampak dari efek domino ini adalah Iran dan Arab Saudi. Walaupun dari dalam negeri Iran terlihat solid, namun jika Amerika Serikat melakukan intervensi, tentunya menjadi berbeda. Arab Saudi juga berpotensi mengalami revolusi dari dalam negeri.

Faktor pendukung, selain karena ketiga krisis tersebut, antara lain karena para penguasa di Timur Tengah memperoleh kekuasaan dengan cara-cara yang tidak demokratis.

Peran teknologi internet dan layanan jejaring sosial di dalamnya tidak bisa dianggap remeh dalam penyebaran efek domino di Timur Tengah. Teknologi memang menimbulkan efek yang luar biasa dalam dunia politik. Dimulai dari ditemukannya mesin cetak, lalu radio yang dimanfaatkan oleh Jerman sebagai alat propaganda, film, televisi, faksimail yang diyakini mempengaruhi keruntuhan Uni Soviet, dan terakhir internet versi awal yang menyebabkan dukungan merobohkan rezim Orde Baru di Indonesia.

Kini, internet yang dilengkapi dengan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, merupakan media yang mampu membangkitkan perlawanan rakyat atau revolusi. Hal inilah yang menyebabkan Departemen Penerangan Mesir menutup akses internet di negaranya.

Hasil wawancara dengan Bapak Sidik Jatmika (Dosen HI UMY)


Oleh: Ragil Riski Rachman (Mahasiswa HI UMY 2010)

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 28 , Februari 2011 . Hal. 10 – 11.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s