Intervensi Negara Adidaya Terhadap Revolusi Mesir


Keadaan negeri yang di juluki sebagai “Negeri Seribu Menara” tersebut semakin hari semakin tegang. Demonstrasi yang dilakukan oleh para penduduk yang ingin menumbangkan Presiden Housni Mubarak teersebut mulai menimbulkan kelumpuhan yang sangat merugikan baik di pihak pemerintahan maupun terhadap penduduk sendiri.

Adanyapenjarahan, penganiayaan, bentrokan antara pro demokrasi dengan pro Presiden Housni Mubarak. Aksi protes terhadap pemerintahan ini banyak mengambil perhatian dunia internasional. Setelah kedatangan Muhammad Elbaradai dari London, yang juga pernah mendapatkan penghargaan Nobel perdamaian, yang merupakan pemimpin pro reformasi ini kemudian membakar semangat para penduduk untuk memprotes Presiden Housni Mubarak yang selama kurung waktu 30 tahun telah menjadi orang nomor satu di negeri tersebut untuk turun dari jabatannya.

Kemiskinan, pengangguran merajalela, ketidakadilan oleh para aparat , bahkan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah, kediktatoran Mubarak yang membatasi kemauan rakyat untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi, apakah memang dengan tiba-tiba aksi demontrasi tersebut di lakukan? Jawabannya adalah mustahil.

Tidak semudah itu dapat mengeluarkan kecaman apabila sebelumnya tidak ada perencanaan yang matang. Rupanya, ada konspirasi dibalik proses mengakhiri rezim presiden keempat Mesir tersebut. Terbukti bahwa ketika ingin diadakan sebuah Konferensi Aktivis di New York. Sebagai sponsor utama, Amerika Serikat diam-diam membantu salah satu tokoh oposisi pemerintahan Mesir untuk menghadiri acara tersebut dan tetap menyembunyikan identitasnya terhadap kepolisian Mesir.

Saat kembali ke Kairo pada tahun 2008, sang aktivis tersebut mengatakan kepada Amerika Serikat bahwa dia akan mempersiapkan skenario penggulingan Housni Mubarak bersama aliansi kelompok-kelompok anti pemerintah lainnya dan akan mendirikan negara demokrasi pada tahun 2011.

Sehingga wajar jika banyak aktivis khususnya dari kalangan Ikhwanul Muslimin yang ditangkap oleh aparat keamanan yang dianggap membahayakan pemerintahan. Nama-nama aktivis yang ditangkap tidak disebutkan sebagaimana di lansir oleh Telegraph Daily.

Hal ini menurut penulis tidak jauh berbeda dengan rezim Soeharto dulu yang membungkam para aktivis dalam melakukan protes kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memihak rakyat sehingga mereka dipenjara, diculik dan tidak diketahui di mana keberadaannya.

Dalam situs Wikileaks di ungkapkan bahwa para pejabat Amerika Serikat menekan pemerintahan Mesir untuk membebaskan tokoh-tokoh oposisi yang ditangkap. Hal inilah yang menjadi keyword dari peta konflik di Mesir.

Pada kenyataannya Amerika Serikat menjadi promotor sekaligus pendukung atas gerakan revolusi di Mesir yang ditunjukkan dari bukti – bukti yang telah penulis kemukakan diatas. Walaupun memang terlihat dalam berbagai pemberitaan Amerika Serikat secara terang – terangan mendesak Hosni Mubarak untuk mundur dari jabatannya .

Namun, pada kenyataannya kita tidak bisa memprediksi gerakan politik Amerika Serikat pasca lengsernya Hosni Mubarak. Siapakah Presiden Mesir selanjutnya? Bagaimana peta politik Mesir terhadap Dunia Barat? Tentunya hanya waktu yang akan menjawab semua itu .


Oleh: Rachmat Ardiansyah (Mahasiswa HI UMY 2010)

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 28 , Februari 2011 . Hal. 6 – 7 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s