Sekolah Menulis III : Menggali Potensi Menulis Ilmiah

Sekolah Menulis yang rutin diadakan setiap bulan kini datang kembali pada 30 April 2011 dengan tema dan pembicara yang lebih fresh yakni “Menggali Potensi Menulis Ilmiah” bersama bapak Adde M. Wirasenjaya. Sekolah Menulis yang sudah memasuki pertemuan ketiga ini diadakan di ruang kelas E.1.3.

Dalam sekolah menulis kali ini, pak Adde membuka kegiatan ini dengan motivasi kepada para peserta yang mana “Semakin sering membaca, maka semakin besar kemungkinan untuk menulis”. Tentunya minat baca dan minat tulis sangat berkaian erat, oleh karena itu perlu banyak membaca untuk mudah menulis.

Pak Adde juga menceritakan kisahnya yang memasukkan artikel ke berbagai media massa, dimana beliau berprinsip “Biarkan koran yang bosan dengan tulisan kita, jangan kita yang bosan dengan penolakan koran”, pada masa itu pak Adde sangat menyukai menulis artikel untuk koran dikarenakan salary atau gaji yang didapatkan untuk satu tulisan cukup besar pada masa itu. Maka beliau mengasah terus kemampuannya dengan membaca berbagai buku untuk menambah wawasannya.

Pak Adde yang juga penggemar Kuntowijaya ini mengungkapkan bahwa tulisan terbagi atas tiga bagian yakni, ilmiah , feature , dan fiksi. Adapun tulisan ilmiah harus memenuhi berbagai ketentuan dan kaidah beserta bersifat saintifik. Sedangkan tulisan fiksi tentunya sebaliknya. Namun disamping itu terdapat tulisan feature yang mana terletak diantara tulisan ilmiah dan fiksi. Hal ini dilihat dari referensi tulisan feature yang berdasarkan fakta sedangkan gaya bahasanya mengikuti fiksi.

Masuk dalam pembahasan tulisan ilmiah dalam major HI, ternyata dari pengalaman beliau membimbing berbagai skripsi dan karya ilmiah terdapat banyak sekali kesalahan yang ditemukannya. Salah satunya dalam memahami konteks Hubungan Internasional, beberapa skripsi tersebut hanya menggunakan makna HI hanya sebagai atribut sedangkan secara substansi tidak ada kaitannya sama sekali dengan HI.

Beliau mencontohkan judul “Perubahan Status Bandara Adi Sucipto menjadi Bandara Internasional dan Pengaruhnya terhadap Ekspor DIY” , pada judul ini sudah terlihat HI hanya sebagai atribut semata yang disimbolkan dengan kata “Internasional”, namun pada esensinya HI merupakan relasi atau hubungan antar-negara bukan hanya merupakan lokasi atau simbol semata.

Selain itu kesalahan dalam menulis ilmiah seperti skripsi, terletak pada latar belakang. Kebanyakan mahasiswa terlalu serakah untuk menggumbar kata-katanya pada latar belakang ini bahkan sampai menganalisis permasalahan, namun seharusnya pada latar belakangan ini hanya sebatas deskripsi terhadap permasalahan yang akan kita angkat dalam skripsi. Ibarat latar belakang adalah etalase, sedangkan bab – bab berikutnya adalah isi atau analisa dari isi etalase tersebut.

Disamping itu banyak mahasiswa yang sudah tepat dalam peletakan deskripsi di latar belakang, namun pembahasan deskripsi tersebut terlalu general dan seringkali melenceng jauh dari topik permasalahan yang diangkat sehingga menjadi persoalan tersendiri dalam mengembangkannya.

Di akhir sesi beliau memberikan tips dan trik untuk cepat menyelesaikan skripsi, yakni menerapkan rumus variabel independen dan variabel dependen. Beliau menggambarkan suatu judul dapat kita pahami dari kedua variabel ini, misalkan kita mengambil judul “Kontribusi CAFTA terhadap Ekspor Pertanian di Indonesia” , bila kita mengambil hanya bagian dari “Kontribusi CAFTA” saja tentu masih janggal. Maka dapat disimpulkan kontribusi CAFTA ini masuk dalam variabel dependen karena tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan Ekspor Pertanian di Indonesia menjadi variabel independen.

Maka variabel independen tersebut dapat dijadikan pembahasan pada Bab III sedangkan variabel dependen pada bab IV. Tentunya apablika kita sudah menyelesaikan kedua bab ini, maka kita sudah hampir menuju penyelesaian skripsi. Selain itu penggunaan teori mengikuti penempatan judul itu sendiri. Bila anda mempunyai teori A dan berkaitan dengan variabel independen tersebut, maka anda dapat ungkapkan semua pada bab III.

Tentunya prinsip ini tidak dapat berlaku pada semua judul skripsi, namun paling tidak apabila kita ingin membuat judul skripsi dapat merujuk pada prinsip tersebut. Dalam akhir presentasinya pak Adde menyinggung penggunaan logika Bahasa yang kerap kali menjadi nilai minus pada skripsi.

Seperti penggunaan kata-kata kadang-kadang, oleh karena itu, ataupun dengan kata lain. Dalam tata bahasa tidak dilarang namun pengulangan kata – kata tersebut dalam setiap alinea seringkali tidak disadari oleh mahasiswa. Maka bagi anda yang baru menyusun skripsi perhatikan hal tersebut.

Satu lagi yang menjadi perhatian dalam skripsi yakni penggunaan waktu yang kurang definitive dan tidak akurat seperti: dua tahun lalu, baru-baru ini, dst. Dalam skripsi penggunaan kata – kata ini tidak menunjukkan waktu yang akurat, sehingga dapat menimbulkan missunderstanding pada pembaca. Misalnya skripsi tersebut dibuat tahun 2010 dan menggunakan kata ‘dua tahun lalu’ yang dimaksud adalah tahun 2008. Namun apabila skripsi tersebut dibaca pada tahun 2020 tentunya penggunaan kata ‘dua tahun lalu’ sudah tidak tepat dan rancu.

Demikian pembahasan dan review dari sekolah menulis pertemuan ketiga ini, semoga menjadi pembelajaran bagi pembaca dalam menggali potensi diri menulis skripsi. Anda dapat mendownload materi yang dibawakan pak Adde pada link berikut : Menggali Potensi Menulis Ilmiah.doc . (AchmadZulfikar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s