Wajah Yogyaku Kini ..

Nyanyian rindu akan kota Yogyakarta rupanya tak hanya dirasakan oleh Katon Bagaskara, pelantun lagu Yogyakarta. Ribuan pendatang silih berganti menginjakkan kakinya di tanah Kota Gudeg ini. Hijau pohon masih meredupkan jalan-jalan sepanjang kota Yogyakarta. Udara sejuk terasa khas di setiap hidung yang melewatinya.

Lalu intas lengang dilewati transportasi tradisional seperti becak, andhong, sepeda onthel menjadikan kota ini memiliki nilai tersendiri. Berhenti pada 0 kilometer, adalah sebutan untuk persimpangan jalan antara jalan malioboro menuju jalan trikora (arah kraton). Maka akan kita lihat sebuah monumen bersejarah, Monumen Serangan Oemoem 1 Maret yang menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan rakyat yogyakarta dalam mempertahankan kota tercinta ini.

Bukan hanya itu saja dari arah selatan tampak berdiri Kraton Ngayogyakarta dengan sebuah lapangan membentang yang disebut Alun-Alun Utara. Biasanya wisatawan lokal maupun asing datang untuk melihat seluk beluk Kraton tersebut.

Masih disekitar wilayah Kraton, ada sebuah bangunan tua yang konon katanya merupakan jalan bawah tanah bagi sultan Kraton Nyayogyakarta untuk pergi ke pantai selatan dan bertemu dengan Ratu Pantai Selatan. Bangunan ini dinamakan Taman Sari. Didalamnya ada sebuah tempat pemandian yang digunakan oleh keluarga Kraton.

Berbagai tempat bersejarah di kota Yogyakarta seperti Museum Sonobudoyo, Monumen Yogya Kembali dan beberapa obyek wisata lain seperti Kaliurang, Pantai Parangtritis, Pantai Depok merupakan serangkaian kekayaan wisata di kota bersejarah ini.

Yogyakarta tidak pernah sepi oleh pengunjung. Kita bisa menyaksikan di setiap sudut-sudut jalan kota Yogyakarta dipenuhi oleh kendaraan. Jalan Malioboro, Jalan Solo, Kotabaru, Jalan Magelang dan sebagainya adalah jalan yang selalu dipadati oleh kendaraan bermotor maupun yang lain. Sedikit flashback, dahulu kendaraan disini masih tradisional seperti andhong , sepeda dan becak.

Berbeda dengan sekarang. Ribuan kendaraan baik dari luar daerah maupun dari yogya sendiri. Ini mngindikasikan bahwa jumlah penduduk di yogyakarta semakin padat.

Bila kita mencermati kembali suasana di Yogyakarta kini berbeda dengan suasana tempo dulu. Mungkin karena banyaknya pendatang baru dari luar kota dan semakin bergesernya budaya menjadi faktor penyebab hal tersebut bisa terjadi. Dulu kita dapat merasakan suasana kota budaya berbalutkan nuansa sakral melingkupi kota Yogyakarta. Namun seiring perkembangannya seolah semua budaya leluhur tersebut tergantikan oleh nuansa pop masa kini yang menghidupkan kota Yogya tidak lagi dengan alunan gamelan melainkan dengan hentakan musik ‘dugem’.

Ritual budaya pun mulai banyak ditinggalkan. Tradisi seakan tidak lagi dimaknai sebagai bentuk warisan leluhur melainkan seolah hanya menjadi suatu pertunjukan untuk menarik minat wisatawan. Sebagai contoh, tradisi ‘Grebegan’ yang merupakan acara puncak peringatan Maulid Nabi, sekarang hanya dilakukan sebagai bentuk ritual rutinitas wajib hanya karena telah menajdi kebiasaan. Jarang pemuda sekarang yang benar-benar memahami makna dari setiap ritual tradisi yang ada.

Pada akhirnya, perkembangan zaman memang menajdi tantangan bagi kelestarian budaya, termasuk budaya di Yogyakarat. Jargon sebagai kota budaya mau tidak mau bersinggungan dengan Yogyakarta sebagai kota pelajar yang sebagian besar memberikan andil terhadap kelestarian budaya.

Karena dengan banyaknya orang yang ingin menuntut ilmu di Yogya dari berbagai daerah, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi proses multi-kultural di Yogyakarta. Maka disini menjadi penting peran pemuda sebagai penerus tradisi untuk dapat melestarikan budaya dan tradisi yang menjadi kekayaan kita. Karena bila bukan kita siapa lagi?


oleh :
Niken Agustin
Mahasiswa Hubungan Internasional UMY 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s