Embung Tambakboyo : Tempat Penampungan Air Sekaligus Tempat Wisata

Kebutuhan akan air bersih saat ini kian meningkat, namun tidak sepadan dengan ketersediaan atau pasokan air bersih. Kekurangan air bersih tidah hanya melanda warga Ibu kota saja, namun juga masyarakat Yogyakarta. Idealnya, air bersih di Yogyakarta 800 liter per detik. Namun, sekarang baru berkisar 450 liter per detik, sehingga air bersih masih kurang. Untuk itu, Pemprov DIY membangun Embung, salah satunya Embung Tambakboyo.

Embung Tambakboyo (embung : waduk) memiliki luas genangan 7,80 ha dan volume tampungan 400.000 m3 yang berlokasi di Dusun Tambakboyo, Wedomartani, Ngemplak. Embung tersebut dibangun pada tahun 2003 dengan anggaran biaya Rp. 50,4 milyar dari APBN.

Manfaat Embung Tambakboyo :
– untuk konservasi sumber daya air,
– sebagai pengendali banjir
– meningkatkan potensi wisata di Kab. Sleman dan DIY
– meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar
– menambah pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Sleman,
– berbagai olah raga air sepertinya dayung, kano, jetsky, dsb.
– untuk perikanan dan sebagai pasokan persediaan air baku Kab. Sleman dan Kota Yogyakarta

Diharapkan, keberadaan embung dapat menaikkan tinggi permukaan air tanah sampai 30 persen sehingga untuk memperoleh air warga tidak perlu lagi menyuntik sumur setiap kali musim kemarau datang. Konservasi dilakukan dengan reboisasi melalui penanaman berbagai jenis tanaman, seperti tanjung, mahoni, palem, dan cemara.

Embung Tambakboyo membendung aliran Sungai Tambak Bayan dan Sungai Buntung. Bendungan itu terletak di hilir pertemuan Sungai Tambakboyo dan Sungai Buntung. Genangannya meliputi Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, dan Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Selain Embung Tombokboyo, terdapat pula Embung Kemiri di Ledhok Tangkil Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem.

Debit air rata-ratanya mencapai 55 liter per detik pada musim hujan dan 23 liter per detik pada musim kemarau. Embung Kemiri berfungsi sebagai sumber irigasi pertanian bagi warga Purwobinangun dan juga sebagai daerah konservasi air.


oleh :
Reynita Hutami Adiningsih
Mahasiswa HI (IC) UMY 2010

Tulisan ini telah dimuat pada Mading IRs News KOMAHI UMY Edisi 7 Bulan Maret 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s