Pemaparan Potensi Daerah dalam PSNMHII XXIII


(1) Foto di sebelah kanan pada saat pemaparan potensi daerah sesi pertama.
(2) Foto di sebelah kiri, Ashabul Yamin (kiri) , Achmad Zulfikar (tengah) dan I Gusti Ayu Azarine Kyla Arinta (kanan) saat memaparkan Potensi Daerah Pasir Besi Kulonprogo dalam Perspektif Multitrack Diplomacy.

Potensi dari tiap daerah tidak dapat dipungkiri keanekaragamannya, mulai dari yang sudah nampak secara fisik dan juga yang belum diexplorasi keberadaannya. Hal inilah yang mendasari pemaparan potensi daerah yang dilaksanakan dalam rangkaian acara Pertemuan Sela Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia XXIII.

Pemaparan ini bertujuan untuk sharing pengetahuan mengenai potensi daerah dari masing – masing delegasi yang turut serta dalam PSNMHII XXIII. Karena banyaknya makalah yang masuk untuk dipresentasikan maka pemaparan dibagi dalam dua sesi yakni, sesi pertama untuk hari Selasa 10 Mei 2011 dan sesi kedua hari Rabu 11 Mei 2011.

Pemaparan yang berlangsung selama dua hari tersebut dibagi per-provinsi, untuk hari pertama pemaparan oleh Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Barat, dan Provinsi Bali. Sedangkan pada hari kedua akan dipaparkan oleh Provinsi Riau, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa tengah dan Provinsi Kalimantan Timur.

Sesi pertama pada hari selasa diawali dengan penjelasan singkat dari moderator Bobby Khamar bahwa setiap Delegasi diwakili 3-4 orang untuk memakarkan pemaparannya. Bagi yang ingin bertanya diberikan waktu 15 menit untuk melakukan tanya jawab. Acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh moderator yang disambut tepuk tangan dari semua delegasi. Dalam pembukannya moderator mengharapkan dengan pemaparan ini mahasiswa dapat menambah wawasan potensi yang di Indonesia.

Pemaparan sesi pertama diawali oleh delegasi dari Provinsi Sumatera barat yang diwakili Universitas Andalas Padang membahas “Peran Budaya Minangkabau dalam membentuk karakter Diplomat Indonesia.” Sumatera Barat memilki potensi besar terutama Potensi Budaya yang sangat relevan dengan praktek-praktek diplomasi. Namun demikian Sumatera Barat juga perlu menyadari akan potensi yang mulai tergerus oleh budaya asing, Oleh karena itu, Sumatra barat harus bisa membangun kembali karakternya melalui penanaman kembali nilai-nilai adat-istiadat Minang dan dengan menempatkan tokoh-tokoh diplomat yang handal

Kemudian dilanjutkan delegasi dari Provinsi Jawa barat dipaparkan oleh Bandung Circle yang terdiri dari Universitas Padjajaran, Universitas Jenderal Ahmad Yani, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Pasundan dan Universitas Komputer Indonesia dengan tema “Peran Potensi Wisata Bandung dalam optimalisasi Diplomasi Indonesia”.

Bandung sebagai Ibukota Jawa barat memiliki potensi daerah yang menggiurkan terutama di bidang pariwisata sehingga menjadi daya tawar yg sangat tinggi sehingga potensi ini harus perlu lebih digalakkan lagi dan dioptimalisasi lagi.

Dan pemaparan terakhir untuk sesi pertama dipaparkan oleh delegasi dari Provinsi Bali dipaparkan oleh Universitas Udayana Bali dengan tema “Eksistansi budaya lokal Bali melalui desa Pakraman”. Industri Pariwisata Bali yang menggoda perlu digalakkan lagi dengan menggunakan konsep pakraman yaitu desa otonomi asli dengan menggendalikan roda pemerintah sendiri di dalam wilayahnya yang tetap hidup dan kedudukannya diakui di dalam Negara Republik Indonesia, sebagai perwujudan budaya bangsa yang perlu diayomi dan dilestarikan.

Pemaparan sesi kedua diadakan kembali setelah Workshop Tata Laksana Perjanjian Luar Negeri. Namun delegasi ditempatkan diruangan berbeda dari kemarin (Selasa). Kini para delegasi berada di Hall Ruang Delta. Sedangkan di ruang Omega diadakan sidang forum sesi kedua. Pemaparan potensi daerah sesi kedua dimulai pukul 14.00 WIB. Hari ini ada yang berbeda karena pada pembukaan pemaparan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.

Pemaparan pertama untuk sesi kedua ini dipaparkan oleh Delegasi Jawa Timur yaitu UMM. Univ.Jember dan Universitas airlangga yang mengangkat tema “Jombang Festival Culture”. Jombang Festival culture (JFC) merupakan acara tahunan untuk menunjukan keragaman kota jombang. Dengan diadakannya acara JFC diharapkan bisa mendongkrak potensi daerah jombang dan dikenal di dunia.

Pemaparan kedua dilanjutkan delegasi delegasi Riau yaitu oleh Universitas Riau. Riau yang memilliki banyak kabupaten daerah memiliki banyak potensi daerah mulai dari pertambangan, perminyakan, Pertanian, dll. Walaupun sebelumnya Pemda Riau sempat berkonflik dengan Pemerintah Pusat mengenai pengelolaan, Namun kini telah tiada dan kini Riau telah kembali berusaha untuk membangkitkan potensi yang ada.

Selanjutnya, Jawa Tengah memaparkan potensi daerahnya, delegasi Jawa Tengah terdiri dari dua universitas yakni Univ.Slamet Riyadi dan Univ Wahid Hasyim. Jawa tengah mengangkat tema Pariwisata dan kerajinan yang mereka miliki, misalnya Jepara yang memiliki kayu jati yang sangat berpotensi di dunia, kemudian Solo dengan keindahan kotanya yang nyaman dan indah. Namun menurut mereka, potensi itu dapat dikembangkan tergantung dengan anggaran yang dimiliki pemerintah. Setelah Pemaparan dan ditunjukkannya gambaran kota Surakarta yang indah.

Pemaparan dilanjutkan oleh Delegasi Kalimantan Timur yaitu Universitas Mulawarman. Kalimantan yang merupakan Pulau terbesar di Indonesia dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, Tentunya memiliki Potensi yang berlimpah ruah, hal ini ditunjukkan dengan banyaknya hasil alam, seperti Pertambangan,Batu bara, timah,kayu, rotan dan masih banyak lagi. Tidak itu saja di Bidang Pariwisata, Kalimantan juga memilki keindahan yang luar biasa seperti terdapat kerajaan tertua di Indonesia, juga banyak terdapat fauna seperti bekantan, orang hutan dll. Namun untuk menggerakkan potensi daerah yang dimiliki, Kalimantan harus siang bersaing dengan pihak-pihak lain dengan terus melakukan promosi-promosinya.

Pemaparan terakhir di sampaikan oleh delegasi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu UGM dan UMY. Yogyakarta yang dikenal dengan kota Pelajar dan Budaya tentunya memiliki potensi yang berlimpah, tidak itu saja, Yogyajarta juga memiliki potensi di Bidang pertambanangan, yaitu Pasir besir, Namun keberadaan ataupun pengelolaannya masih mendapat kendala terutama yang terdapat di kabupaten Kulon progo,yang merupakan salah satu kabupaten di DIY. hal inilah yang diangkat oleh Delegasi DIY. Kasus sengketa Pasir Besi di Kulon Progo dijelaskan oleh delegasi DIY dengan mencoba memberi jalan keluar melalui Multitrack Diplomacy sebagai resolusi sengketa yang terjadi.

Setelah pemaparan DIY, maka pemaparan selesai, dengan pemaparan-pemaparan yang disampaikan, diharapkan dapat menambah wawasan delegasi dari seluruh penjuru Indonesia mengenai potensi-potensi daerah yang dimiliki Indonesia, terang Bobby Khamar, Moderator. (Ashabul Yamin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s