Perlukah Feminisme itu ?

Feminisme adalah sebuah paham yang meyakini masalah gender, pembagian peran antara laki-laki dan perempuan secara merata. Hal ini didasarkan pada peran tersebut adalah bukan sesuatu yang natural, melainkan diciptakan oleh masyarakat. Menurut ibu Nur Azizah salah satu satu dosen HI, paham feminism meyakini bahwa mereka harus memperbaiki peran antara laki-laki dan perempuan. Karena pada dasarnya ada perbedaan antara keduanya. Misalnya, mengurus anak, yang lebih dilimpahkan kepada perempuan sedangkan laki-laki mengemban dua tugas, yaitu, public steer dan domestic steer. Public steer yaitu sebagai perwakilan didalam masyarakat dan domestic steer yaitu mencari nafkah. Dan pembagian ini yang menurut para feminis tidak adil dan harus diperbaiki.

Kita pasti sering bertanya, kapan sebenarnya paham feminism muncul. Masalah perempuan dan laki-laki sebenarnya sudah lama muncul. Ada beberapa teori yang mendasarinya, salah satunya menyebutkan bahwa masalah gender mulai ada sejak masyarakat mengenal adanya pekerjaan di dalam dan di luar rumah. Lalu muncul pertama, siapa yang harus bekerja didalam rumah dan siapa yang harus bekerja diluar rumah.

Dari sinilah awal mula pembagian tugas dan peran antara laki-laki dan perempuan. Kesadaran ketidakadilan peran muncul pada abad ke-19, dimana perempuan belum memiliki hak turut serta dalam pemilu di berbagai negara di Eropa. Memang, hal serupa juga juga terjadi pada masa yang jauh sebelumnya, di polis-polis Yunani Kuno perempuan dan budak tidak memiliki hak suara.

Feminisme akan terus berkembang, mengingat kondisi sekarang, belum terwujud adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Contoh paling ekstrim adalah poligami dan berpolitik. Meskipun poligami dihalalkan oleh agama, namun tetap saja perempuan adalah sebagai korban yang mana perasaan yang dialaminya tidak dapat dimengerti oleh pelaku, di sini adalah laki-laki. Perasaan istri pertama berbeda dengan istri kedua, dan sebagainya dan itu hanya dapat dimengerti oleh yang mengalaminya.

Dalam perpolitikan, kuota perempuan masih minim di mana pun di dunia. Selain itu, perempuan yang menjadi korban, dalam kasus poligami misalnya, harus memiliki perwakilan, termasuk di DPR, yang juga perempuan yang diharapkan bertanggung jawab menyalurkan aspirasi dan lebih mengerti perasaan menjadi korban. Dengan begitu, hak-hak perempuan diharapkan dapat diangkat dan disetarakan dengan kaum laki-laki. Namun kenyataannya, memperjuangkan hak-hak perempuan bukan sebuah prioritas di DPR.

Sama dengan peraturan dilarang merokok yang tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan poligami. Hal ini dianggap justru dapat merugikan laki-laki sebagai mayoritas di DPR.

Dari sinilah kita tahu bahwa adanya feminisme yang berkembang dapat mewakili suara-suara perempuan yang memang patut diperjuangkan. Dan gerakan-gerakan femism yang ada adalah salah satu wadah perempuan-perempuan mendapatkan keadilan. Terlepas dari semua itu, memang seorang perempuan harus tetap pada kodrat lahiriah sebagai seorang perempuan. Jadi, feminisme akan terus berusaha ditegakkan selama ada ketidakadilan peran dan tugas gender di mana pun di dunia. (ragil)

oleh Ragil Rizky Rachman (Mahasiswa HI UMY 2010)
Hasil wawancara dengan Dra. Hj. Nur Azizah M.Si (dosen HI UMY).

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 29, April 2011 hal. 1 – 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s