Sejarah dan Perjuangan Feminisme

Feminisme, adalah kata yang tidak asing di telinga kita. Feminisme adalah sebuah gerakan yang terbentuk pada era pencerahan (Renaisance) di Eropa, oleh Lady Mary Wortely dan Marquis de Condorcet. Menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa. Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai Universal Sisterhood. Bersamaan dengan itu, sejarah feminis telah dimulai pada abad 18 oleh R.A Kartini melalui hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Perjuangan feminis sering disebut dengan istilah “gelombang’ dan menimbulkan kontroversi/perdebatan, mulai dari feminis gelombang pertama dari abad 18 sampai ke pra 1960, gelombang kedua setelah 1960, bahkan gelombang ketiga atau Post Feminism. Istilah feminis kemudian berkembang secara negatif ketika media lebih menonjolkan perilaku sekelompok perempuan yang menolak penindasan secara vulgar dan terang-terangan. Sebenarnya, setiap orang yang menyadari adanya ketidakadilan atau diskriminasi yang dialami oleh perempuan karena jenis kelaminnya, dan mau melakukan sesuatu untuk mengakhiri ketidakadilan tersebut, pada dasarnya dapat disebut feminis.

Teori feminisme secara umum ingin menunjukan gejala-gejala opresi terhadap perempuan, subordinasi, sebab-sebab dan konsekuensinya. Mereka menyebut sistem patriarki, hukum dan UU yang diskriminatif, kepemilikan harta yang tidak seimbang, pelecehan seksual antara suami-istri sebagai cermian tidak opresi terhadap perempuan. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh gerakan feminisme :

1.) Tercapai kesamaan hak dan kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai manusia bebas, baik dalam dunia publik maupun privat.
2.) Penghapusan segala opresi dan perbedaan gender dalam masyarakat.
3.) Kebebasan individu untuk memilih dan memutuskan sesuai keinginan dan aspirasinya.

Tujuan ini semakin mendapat angin segar dalam masyarakat yang cenderung permisif terhadap budaya materialistis dan individualistis. Dalam kacamata materialis, seseorang dapat memiliki power bila dapat menghadirkan materi sebanyak-banyaknya dalam keluarga.

Secara historis, kemunculan Feminisme sebenarnya sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan Islam. Isme ini pertama kali muncul di AS pada abad ke 19 ketika perempuan-perempuan Amerika baru menyadari bahwa mereka tak memiliki hak pilih dalam politik. Tuntuan mereka mencapai puncaknya ketika kaum hawa turunan Paman Sam itu berkumpul di Senece Falls, NY pada tahun 1948. Ada 4 hal yang mengemuka di forum itu, yakni tentang undang-undang perkawinan, berisi tentang gugatan perwalian anak dan penyerahan harta pihak perempuan untuk suami bila meraka bercerai, kesetaraan pendidikan antara perempuan dan laki-laki, hak bekerja dan berpolitik.

Isu perjuangan gender sempat surut satu dekade kemudian. Namun, pada tahun 1960-an isu tersebut mencuat kembali dengan jargon anyar “Peran tradisional perempuan adalah cerminan subordinasi perempuan”.

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 29 , April 2011. Hal. 1 dan hal.3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s