Feminisme dan Kesetaraan Gender

Feminis dan gender memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Perbedaan gender memicu munculnya gerakan feminis itu sendiri. Perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan ini yang kemudian melahirkan pemahaman akan perbedaan kemampuan diantara keduanya.

Pada zaman dahulu, perempuan dinilai tidak dapat diandalkan dan juga tidak bernilai. Contohnya pada masa sebelum datangnya Islam dan sebelum adanya Perang Dunia didunia barat. Pada masa-masa itu perlakuan yang diterima para kaum perempuan tidak lebih dari sekedar ketidakadilan, pada masa-masa Jahiliyah perempuan dianggap hina dan di satukan dengan binatang saat dia mengalami datang bulan, ia bahkan akan menjadi barang jaminan saat sang suami kalah judi. Semua berubah dan perempuan bahkan menjadi sangat diangungkan pada saat Islam datang dengan membuat berbagai macam perubahan. Wanita memiliki tiga tingkat derajat yang lebih tinggi dari pada kaum lelaki.

Sedangkan pada masa sebelum terjadi Perang Dunia, perempuan tidak memiliki kebebasan layaknya seorang laki-laki yang dapat bekerja dan melakukan segala aktivitas diluar rumah. Perempuan hanya akan berkutat pada rumah, anak, suami dan gereja. Barulah pada saat pemikiran tersebut berasal dari kebebasan dan keseimbangan berasal dari rasionalitas.

Kedua, golongan feminisme marxis, ia beranggapan bahwa hanya kapitalisme sajalah yang dapat memberikan kesuksesan bagi para perempuan. Paham berakar dari Karl Marx ini telah menjadi akar dari munculnya golongan feminis ini. Ketiga, golongan feminisme sosialis, aliran ini hendak mengatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Keempat, feminisme radikal, bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki.

Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. Walaupun masing-masing golongan memiliki karakteristik tersendiri, namun masih dalam satu garis besar yang sama, yaitu kesetaraan hak.

Sesungguhnya, perempuan dan laki-laki sama, yaitu merupakan ciptaan Tuhan dengan masing-masing keunikannya. Dengan pemahaman akan perbedaan satu sama lain akan menumbuhkan keselarasan dan kedamaian hidup yang diinginkan. Dalam kodratnya sebagai perempuan memang dibenarkan jika mereka memiliki kewajiban mengabdi kepada keluarga, rumah dan suami.

Namun hal tersebut tidak membatasi peran perempuan untuk dapat ikut serta dalam aktivitas diluar kewajiban mereka seperti ikut bekerja, dll. Pembatasan peran perempuan haruslah pada batas-batas yang tidak melanggar aturan yang telah menjadi aturan alam bagi perempuan dan juga tidak melanggar hak perempuan itu sendiri.


oleh :
Rafika Arsyad
Mahasiswa HI UMY 2009

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Buletin Edisi 29 Hal. 5 – 6.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s