Negeri Sakura Pasca Gempa dan Tsunami

Pertengahan bulan lalu, tepatnya 11 Maret 2011 dunia dihebohkan dengan berita Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter yang melanda Jepang di Pulau Honshu. Gempa juga dirasakan hampir seluruh daerah di pantai pasifik, termasuk Tokyo dan Osaka. Gempa bumi ini adalah gempa terkuat yang pernah terjadi Jepang. Gempa di Jepang tersebut berpusat di 382 kilometer timur laut Tokyo dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut menimbulkan Gelombang Tsunami setinggi lebih dari 6 meter yang melanda di Pulau Honshu. Kota paling parah terkena dampak Tsunami Jepang adalah Iwaki dan Sendai.

Koban tewas mencapai 12.431 orang dan 15.153 hilang dinyatakan hilang.
Bencana ini menyebabkan paling tidak 46.027 bangunan rusak disapu tsunami atau terbakar. Listrik mati dan minimnya air bersih, bahkan trasportasi seperti kereta ambruk . Pemerintah Jepang mengalami kerugian ekonomi hingga 16-25 triliun Yen atau sekitar Rp 2.536 triliun. Diperkirakan hal tersebut merupakan kerugian terbesar akibat bencana alam sepanjang sejarah. Ancaman radiasi nuklir ekstrim pun tidak bisa dielakkan. Bahaya radioaktif atau radiasi nuklir akibat kerusakan setelah diteliti ada beberapa reaktor nuklir di Fukushima Jepang yang rusak akibat goncangan gempa tersebut. Hal ini menimbulkan bahaya radiasi yang cukup mengerikan.
Namun, pemerintah Jepang terus mengupayakan meminimalisir penyebaran radio aktif tersebut.

Lebih dari 68 tim yang berasal dari lebih dari 45 negara (termasuk Indonesia) siap membantu. Mereka adalah tim-tim pencari dan penyelamat yang dimobilisasi di bawah jaringan tanggap bencana PBB. Indonesia juga menyumbangkan dana bantuan sebesar 2 juta Dolar AS ke Jepang. 12 April lalu Jepang menaikkan status darurat nuklir ke level tujuh, skala tertinggi secara internasional untuk krisis atom.

Berdasarkan International Nuclear Event Scale (INES), level tujuh berarti kecelakaan besar. Krisis nuklir ditandai pelepasan dalam jumlah besar material radio aktif serta meluasnya dampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Hingga kemarin, para pekerja terus berjuang menstabilkan reaktor-reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi.

Negeri Matahari Terbit ini mengalami lebih dari 400 gempa susulan dengan kekuatan lebih dari 5,0 Skala Richter sejak 11 Maret 2011. Pejabat operator PLTN Fukushima, Tokyo Electrical Power Co (TEPCO) menjelaskan, “kebocoran radiasi tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Para pakar nuklir terus mengawasi PLTN Fukushima yang meleleh di bagian tertentu, saat sistem pendingin reaktor mengalami kerusakan”.

Sejumlah ledakan juga terjadi di fasilitas itu hingga melepas material radioaktif ke atmosfer. Meski berada di level darurat nuklir tertinggi, Perdana Menteri (PM) Jepang Naoto Kan baru-baru ini menyatakan bahwa PLTN Fukushima secara bertahap kembali stabil.

Diharapkan “Negeri Sakura” kembali bangkit dari keterpurukan akibat bencana dan kembali menunjukkan kekuatannya dalam bidang industri dan mampu menarik kembali simpati wisatawan dengan sejuta keindahan Negeri Sakura tersebut.

Oleh:
Haniza Ayu Mentari (Mahasiswa HI UMY 2010)

Tulisan ini telah dimuat pada IRN Mading Esisi 8 Bulan April 2011 , halaman 1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s