Penyebab Kerusuhan di London

IRsNews – London, London kini dibayangi aksi penjarahan yang menular, setelah tiga hari lalu digoyang kerusuhan sosial nyaris tak terkendali di distrik Tottenham, London. Kerusuhan dan penjarahan di Tottenham itu menjalar ke wilayah-wilayah lain di London, bahkan kini sudah menular ke sejumlah kota lain di Inggris.

Di Tottenham, awalnya kerusuhan itu meletup pada Sabtu malam. Lalu sehari kemudian meluas ke Enfield, Walthamstow, dan Brixton. Kerusuhan lalu berlanjut ke aksi pembakaran, penjarahan toko, dan penyerangan polisi.

“Ini peristiwa terburuk bagi Kepolisian Metropolitan London. Penjarahan, pembakaran, dan kerusuhan menyebar tak terkendali,” demikian Kepolisian Metropolitan London, atau Scotland Yard, dikutip The Telegraph. Saat itu, Scotland Yard mengomentari kerusuhan pada Senin malam, 8 Agustus 2011.

Para polisi Inggris itu terkejut, dan menilai peristiwa di wilayah utara London itu mengerikan. “Kami tak menyangka,” ujar Deputi Kepala Kepolisian London, Steven Kavanagh, kepada stasiun berita BBC. Sebelumnya, polisi tak melihat ada warga begitu beringas, dan berani berhadapan dengan mereka.

The New York Times melaporkan pada saat awal kerusuhan itu meletup Scotland Yard telah menangkap 200 perusuh dan penjarah. Dengan demikian, dalam tiga malam berturut-turut Kepolisian London sudah menangkap lebih dari 450 orang terkait kerusuhan dan penjarahan.

Kerusuhan itu bermula dari protes warga atas penembakan seorang pemuda bernama Mark Duggan. Pemuda Tottenham berusia 29 tahun itu tewas tertembak polisi di satu aksi demonstrasi, Sabtu pekan lalu, 6 Agustus 2011.

Peristiwa itu memicu kemarahan ratusan orang, dan berujung pada kerusuhan. Ibarat api tersulut minyak, kerusuhan ini dimanfaatkan banyak orang menjarah toko dan perkantoran. Pada hari-hari pertama kerusuhan, polisi kalah jumlah. Para perusuh pun jadi beringas.

Pada hari ketiga Selasa kemarin, polisi lebih bersiaga, dan menerjunkan lebih banyak personil. “Kepolisian London meningkatkan operasi melibatkan 2.500 petugas, untuk membantu 3.500 rekan mereka bersiaga di sejumlah tempat,” ungkap juru bicara Scotland Yard.

Kesiagaan itu mutlak diperlukan. Soalnya, ada gejala kerusuhan di London menular ke kota lain. Stasiun berita BBC melaporkan kekerasan mulai terlihat di Kota Birmingham, Liverpool, Nottingham dan Bristol. Bagi aparat keamanan, ini adalah gejala “copycat criminal activity”, atau aksi kejahatan yang dilihami kejadian serupa sebelumnya.

Kerusuhan di akhir pekan itu membuat London, dan juga Inggris, tampak genting. Para pejabat Inggris memperpendek masa liburan mereka. Perdana Menteri Inggris, David Cameron yang sedang berlibur di satu vila di Tuscany, Italia, memutuskan segera terbang kembali ke London.

Cameron menggelar pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri Theresa May membahas kerusuhan tak terkendali itu. Theresa May juga dalam masa liburan saat kerusuhan pecah di London. PM Cameron lalu memimpin komite darurat, yang disebut tim Cobra, untuk membahas langkah-langkah mengatasi kerusuhan.

Salah satu keputusan tim Cobra adalah menambah jumlah polisi di London menjadi 16.000 personil. Selain itu, Cameron meminta semua anggota parlemen untuk mempersingkat liburan demi menghadiri sesi darurat pada Kamis, 11 Agustus 2011. Cuti musim panas bagi para polisi pun untuk sementara dibatalkan demi mengatasi kerusuhan.

Frustrasi

Menurut pengamat, kerusuhan di Inggris ini bukan sekadar soal kekesalan warga kepada polisi, atau reaksi atas kematian Mark Duggan belaka. Ada ketegangan sosial dan ekonomi yang berdiam lama, dan menunggu saatnya pecah. Taruhlah kerusuhan meluas ke Brixton, satu area di pojok kota London. Sejarah mencatat, pada 1981, kerusuhan sama pernah pecah di wilayah ini. Pemicunya juga bentrok antara warga dan polisi.

Kepolisian Brixton, dalam catatan sejarah resmi mereka tentang insiden pada 1981 itu mencatat: “299 polisi, dan sekurangnya 65 warga terluka. 61 kendaraan pribadi, dan 56 kendaraan polisi hancur. 28 bangunan dibakar, 117 dirusak atau dijarah. 82 orang ditahan. Molotov koktail dilemparkan pertama kali di negeri Inggris. Peristiwa ini melekat erat di ingatan”.

Seperti halnya pada 1981, kerusuhan yang menjalar pekan ini di London terjadi ketika pemerintahan Konservatif Inggris memangkas biaya layanan publik dan sosial. Tottenham, adalah tempat populasi terbesar warga Inggris keturunan Afrika-Karibia. Daerah itu memiliki angka pengangguran tertinggi di London, dan peringkat ke delapan untuk seluruh Inggris.

Hampir seluruh pekerjaan di sana bergantung pada dana publik itu. Seorang politisi senior Partai Buruh dari wilayah Tottenham, David Lammy, mengatakan mayoritas warga di Tottenham sebetulnya menolak kerusuhan terjadi di kawasan mereka. “Ini harus dihentikan,” ujar Lammy.

Meski begitu, setahun sebelumnya Lammy pernah mengingatkan tindakan pemerintah memotong dana layanan publik itu bisa menjelma bencana bagi warga Tottenham. “Kaum Liberal Demokrat dan Konservatif beresiko melemparkan kita kembali ke era 1980an, tatkala marah dan frustasi berjangkit di tengah warga miskin, yang lalu memicu kerusuhan sosial,” ujar Lammy di situsnya Oktober lalu.

Kaum muda

Frustrasi itu terutama menjangkiti kaum muda, para korban krisis ekonomi yang melanda Inggris beberapa tahun terakhir. Harga kebutuhan pokok hingga biaya kuliah naik drastis, sementara banyak warga menjadi korban PHK atau menganggur. Lima bulan lalu, Inggris juga digoyang unjuk rasa besar memprotes hilangnya kesempatan kerja akibat kebijakan pemerintahan Konservatif.

Longgarnya penegakan hukum di kota-kota Inggris, bahkan di London, membuat kerusuhan berujung pada penjarahan. “Kemungkinan mereka yang terlibat berasal dari kalangan berpenghasilan rendah atau pengangguran. Mereka umumnya tak punya masa depan yang pasti,” kata pengamat kriminal dan budaya kaum muda Inggris, Profesor John Pitts, seperti dikutip The Guardian.

Seorang pengajar di London School of Economics (LSE), Dr Kirsten Schulze mengatakan kepada VIVAnews, kerusuhan itu tampak menakutkan di televisi. Meskipun begitu, kegiatan di pusat kota London berjalan normal, pertanda situasi masih aman. “Banyak turis lalu lalang, dan tak tampak polisi berjaga-jaga”, ujarnya.

Kirsten mengatakan kerusuhan tampak cepat menjalar di daerah pinggiran wilayah London yang miskin. “Di pemberitaan televisi lokal saya menyaksikan bagaimana toko Debenhams dijarah selama 1,5 jam sebelum lima orang polisi datang menghentikan aksi itu,” ujar Kirsten.

Siapakah pelaku penjarahan itu? Profesor John Pitts mengemukakan soal ketimpangan ekonomi yang memicu rasa ketidakadilan. Menurut dia, pelaku penjarahan mungkin dari kalangan warga tak punya beban sosial. “Kerusuhan ini memang akibat adanya peluang. Tapi lebih penting lagi, ada masalah pada kaum muda yang merasa tak punya beban apapun,” lanjut Pitts.

Para penjarah menyadari polisi tak bisa mengendalikan situasi. “Mereka menjadi kian berani dan merasa telah menguasai keadaan,” ujar Pitts. Ini terlihat dari banyaknya penjarah berani mengambil barang dari toko tanpa perlu menutup wajah.

Satu CCTV di London pada Minggu pagi, misalnya, merekam aksi para penjarah, yang berjalan santai dengan barang jarahan dari toko busana H&M. Sementara, penjarah lainnya menunggu menggasak sasaran berikutnya, yaitu toko peralatan olahraga JD Sports. “Mereka merasa tak soal mengincar toko milik perusahaan besar. Logikanya, toh perusahaan-perusahaan itu punya banyak uang, sementara mereka tak punya duit,” ujar Pitts.(vivanews.com)

Selasa, 9 Agustus 2011, 22:51 WIB

sumber : http://fokus.vivanews.com/news/read/239413-inggris-menderita-badai-anarki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s