KKN sebagai Bentuk Pengabdian Masyarakat

Senin (25/3) Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UMY bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan, Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UMY mengadakan sosialisasi Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan yang belangsung di Ruang Simulasi Sidang HI UMY ini dihadiri oleh Dr. Ali Muhammad, S.IP, M.A selaku Ketua Jurusan, didampingi Sugito, S.IP, M.Si selaku Sekretaris Jurusan, dan Koordinator KKN Ade Marup Wirasenjaya, S.IP, M.A.
Sejak diturunkan Surat Keputusan (SK) Rektor No.072/SK-UMY/I/2013, mulai tahun 2013 program studi Ilmu Hubungan Internasional mewajibkan mahasiswanya untuk melaksanakan  KKN. Setiap universitas diwajibkan untuk menjalankan Tri Dharma, yaitu Pendidikan, Research atau penelitian, dan Pengabdian.
KKN merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa. Tujuan KKN antara lain untuk meningkatkan empati dan kepedulian mahasiswa kepada masyarakat yang lemah dan sebagai salah satu bentuk pengamalan dari surah Al Ma’un .  “Sebagai bagian dari organisasi Muhammadiyah, KKN merupakan pintu dakwah kultural” ujar Sutrisno, SP., MP, koordinator LP3M. Selain itu, KKN merupakan sarana pengembangan kepribadian dan pengembangan kelembagaan.

UMY menawarkan model KKN tematik, yaitu tema yang berbasis permasalahan aktual yang dihadapi masyarakat. Adapun program-program KKN antara lain yaitu, Program pokok, Program tambahan, dan Program Keagamaan. Untuk mahasiswa UMY, program keagamaan bersifat wajib.

KKN wajib bagi mahasiswa yang sudah menempuh 100 SKS atau minimal duduk di semester 5.  Mahasiswa wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 240 Jam . Satu kelompok terdiri dari 10-30 orang mahasiswa, bisa berasal dari fakultas atau jurusan yang berbeda. “KKN berbeda dengan magang, karena KKN  menyiapkan mahasiswa sebagai kader pemimpin bangsa yang peka terhadap realita sosial. Manfaat KKN akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain itu, KKN bersifat multidisipliner” ujar Sutrisno.

Bagi mahasiswa yang sudah melaksanakan magang, tidak perlu mengikuti KKN. Namun, bagi mahasiswa yang tetap ingin magang, tetap diperbolehkan, namun tidak dikonversikan, hanya untuk pengalaman saja. “Jangan diambil dari konversi SKS nya, tapi ambil sisi positifnya” ungkap Pak Adde. Menanggapi bahwa KKN tidak sesuai dengan jurusan sangatlah tidak tepat. Tidak ada ilmu yang tidak bermanfaat, terlebih lagi ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi. Mahasiswa harus bisa memberikan manfaat dan kontribusi kepada masyarakat. Misalnya saja untuk mahasiswa HI, bisa saja membuat program mengajar Bahasa Inggris di desa. Sutrisno menambahkan, “ Kalau ilmu yang diajarkan tidak bermanfaat bagi masyarakat, lebih baik jurusan tersebut ditutup saja”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s